ciri-ciri tuna madidihang

IDENTIFIKASI CIRI-CIRI MORFOLOGI PADA IKAN PELAGIS BESAR

TUNA MADIDIHANG (Thunnus albacares)

 

LAPORAN PRAKTIKUM

 

OLEH :

M. ARMAN AHMAD

NPM : 051609013

 

 

PROGRAM STUDY MANAJEMEN SUMBER DAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2012

 

 

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Sang Khaliq, Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan kemampuan. Sehingga Laporan Penelitian yang berjudul Identifikasi Ciri-Ciri Morfologi Pada Ikan Pelagis Besar Tuna Madidihang (Thunnus Albacares)ini dapat diselesaikan dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Dengan segala kemampuan yang terbatas, makalah laporan praktikum ini mencoba menguraikan secara lengkap tentang Identifikasi Morfologi pada ikan Madidihang. Dan dengan adanya makalah ini, Penyusun berharap sedikit membantu para pembaca dan Penyusun sendiri dalam memahami cara membedakan ikan dengan baik dan benar. Namun demikian, apabila dalam makalah ini dijumpai kekurangan dan kesalahan baik dalam pengetikan maupun isinya, maka Penyusun dengan senang hati menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati, kami menghaturkan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Dosen Pembimbing mata kuliah Sumber Daya Perairan serta teman-teman angkatan maupun senior fakultas perikanan dan ilmu kelautan yang bersama-sama mewujudkan tercapainya tujuan perkuliahan ini. Semoga makalah yang sederhana ini bermanfaat adanya. Amin yaa rabb.

Ternate, Januari 2012

Penyusun

 

M. Arman Ahmad

 

 

I. PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Ikan tuna merupakan salah satu komoditas primadona di bidang perikanan, setidaknya dilihat peranannya dalam pangsa ekspor nasional khususnya ekspor komoditas untuk jenis ikan tersebut. Kawasan perairan wilayah propinsi Maluku merupakan salah satu wilayah Kawasan Indonesia Timur yang sangat potensial akan jenis ikan tersebut, terutama jenis Tuna Mata Besar (Big eyes Tuna’s) dan jenis Tuna Madidihang (Madidihang Tuna’s) (Winarso, 2004).

Ikan tuna dan cakalang termasuk dalam famili Scombroid yang merupakan sumber daya yang oseanik. Dari 13 spesies dan 4 genera kelompok tuna (Thunnini), kedua spesies tersebut di atas adalah yang paling memiliki nilai komersial tinggi dan banyak terdapat di Samudera Hindia bagian barat Sumatera. Spesies tuna yang tersebar di wilayah ini antara lain adalah madidihang (Thunnus albacores), tuna mata besar (Thunnus obesus), dan albakora (Thunnus alalunga) (Uktolseja et al., 1998 dalam Wijopriono dan Abdul, 1999). Dari beberapa spesies dari famili Scombridae, terutama genus Thunnus. Ikan ini adalah perenang handal (pernah diukur mencapai 77 km/jam). Tidak seperti kebanyakan ikan yang memiliki daging berwarna putih, daging ikan ini berwarna merah muda sampai merah tua. Hal ini karena otot tuna lebih banyak mengandung myoglobin dari pada ikan lainnya. Beberapa spesies tuna yang lebih besar, seperti tuna sirip biru (bluefin tuna), dapat menaikkan suhu darahnya di atas suhu air dengan aktivitas ototnya. Hal ini menyebabkan mereka dapat hidup di air yang lebih dingin dan dapat bertahan dalam kondisi yang beragam.

Ikan madidihang ternyata sulit dibedakan pada kelas- kelas ukuran kecil sampai sedang yang biasanya tertangkap dengan kapal-kapal pukat cincin. Identifikasi dan pemisahan yang benar dari ikan madidihang dalam hasil tangkapan pukat cincin yang didaratkan sangatlah penting bagi pengkajian stok dan pengelolaan secara regional dari jenis ikan tersebut.

 

 

  1. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dari Praktikum ini adalah:

  1. Agar mahasiswa dapat mengetahui bagaimana caranya mengidentifikasi karakteristik morfologi seekor ikan.
  2. Makalah ini bisa menjadi semacam jurnal panduan kecil-kecilan untuk mengidentifikasi ikan.

Sedangkan manfaat yang diharapkan dalam praktikum ini. Agar dapat kiranya memberikan informasi kepada mahasiswa untuk bisa membedakan sebuah ikan hanya dengan melihat karakteristik morfologi dan anatominya.

 

II. TINJAUAN PUSTAKA

 

  1. Aspek Biologis Ikan Madidihang
  1. Klasifikasi

    Klasifikasi ilmiah ikan Madidihang menurut Bonnaterre, 1788

    Kerajaan    : Animalia            

    Filum        : Chordata

    Kelas        : Actinopterygii

    Ordo        : Perciformes            

    Famili        : Scombridae

    Genus        : Thunnus

    Spesies    : Thunnus albacares

    Nama binomial    : Thunnus albacares

     

    Catatan : Dalam perdagangan, yang disebut sebagai albacore dalam bahasa Inggris adalah jenis tuna yang lain, yakni tuna albakora (Thunnus alalunga). Ikan ini lebih kecil dari madidihang (hingga 120 cm FL), dengan pewarnaan yang mirip kecuali finletnya yang berwarna gelap. Sirip dada memanjang hingga melewati pangkal sirip punggung kedua, biasanya ujungnya mencapai finlet punggung yang kedua.

     

    2.1.2. Morfologi

    Madidihang dewasa memiliki tubuh yang berukuran besar, dengan panjang dari ujung moncong hingga ujung percabangan sirip ekor (FL, fork length) mencapai 195 cm; namun umumnya hingga 150 cm. Bentuknya gilig panjang serupa torpedo (fusiform), agak memipih dari sisi ke sisi.

    Sirip punggung (dorsal) terdiri dari dua berkas, terpisah oleh celah yang kecil saja; berkas yang kedua segera diikuti oleh 8–10 sirip-sirip tambahan berukuran kecil (finlet). Sirip anal diikuti oleh 7–10 finlet. Pada spesimen berukuran besar, sirip punggung kedua dan sirip anal ini kadang-kadang memanjang hingga 20% FL. Sirip dada (pectoral) lumayan panjang (22–31% FL), biasanya mencapai pangkal bagian depan sirip dorsal kedua, namun tidak melewati pangkal bagian belakangnya. Ada dua lipatan kulit (tonjolan interpelvis) di antara sirip-sirip perut. Batang ekor amat ramping, dengan sebuah lunas samping yang kuat di tiap-tiap sisi, yang masing-masing diapit oleh dua lunas yang lebih kecil. Sirip ekor bercabang kuat (forked, bercagak).

    Punggungnya berwarna biru gelap metalik, berangsur-angsur berubah menjadi kekuningan atau keperakan di bagian perut. Sirip-sirip punggung kedua dan anal, serta finlet-finlet yang mengikutinya, berwarna kuning cerah, yang menjadi asal namanya. Bagian perut kadang-kadang dihiasi oleh sekitar 20 garis putus-putus yang hampir vertikal arahnya.

    Madidihang dapat mencapai berat melebihi 300 pon (136 kg), walau demikian ini masih jauh di bawah tuna sirip biru (Thunnus orientalis) yang bisa memiliki berat lebih dari 1000 pon (454 kg), dan juga sedikit di bawah tuna mata belo (Thunnus obesus) dan tatihu (Thunnus maccoyii). Ukuran madidihang yang tercatat dalam literatur adalah hingga sepanjang 239 cm dan seberat 200 kg.

     


    Gambar 1 : Ikan Tuna Madidihang (Thunnus albacares)

    2.1.3. Habitat

        Madidihang merupakan ikan epipelagis yang menghuni lapisan atas perairan samudra di atas lapisan termoklin. Penelitian memperlihatkan bahwa meski madidihang kebanyakan mengarungi lapisan kolom air 100 m teratas, dan relatif jarang menembus lapisan termoklin, namun ikan ini mampu menyelam jauh ke kedalaman laut. Seekor madidihang yang diteliti di Samudra Hindia menghabiskan 85% waktunya di kedalaman kurang dari 75 m, namun tercatat tiga kali menyelam hingga kedalaman 578 m, 982 m dan yang paling ekstrem hingga 1.160 m.

    Tuna sirip kuning ini mempunyai kebiasaan berenang cepat dan bergerombol bersama ikan yang seukuran, kadang-kadang juga bercampur dengan tuna jenis lainnya. Musim berbiaknya berlangsung selama musim panas. Ikan-ikan ini memangsa aneka jenis ikan, krustasea, dan juga cephalopoda. Di laut Halmahera dan Sulawesi, madidihang terutama memangsa ikan (malalugis dan teri), udang dan kepiting; dengan ikan malalugis (ikan layang) menempati porsi terbesar

     

    2.1.4 Penyebaran

    Madidihang ditemukan di seluruh perairan tropis dan ugahari dunia di antara garis lintang 40° LU dan 40° LS. Ikan ini merupakan komoditas nelayan yang penting; buku FAO Yearbook of Fishery Statistics melaporkan antara 1990 hingga 1995 tangkapan madidihang di perairan Pasifik barat-tengah berkisar antara 323.537 sampai 346.942 ton per tahun.

    Indonesia adalah tempat bertemunya stok madidihang dari Samudra Hindia dan Samudra Pasifik; kemungkinan tempat pertemuan kedua kelompok itu adalah di sekitar Laut Flores dan Laut Banda. Potensi tuna sirip kuning yang terbesar di Indonesia memang diperkirakan berada di Laut Flores dan Selat Makassar, dengan luas area penangkapan sekitar 605 ribu km². Alat tangkap yang banyak digunakan adalah pancing huhate (pole and line), pancing ulur (hand line), pancing rawai (long line) dan pukat cincin (purse seine).

    Madidihang dipasarkan dalam bentuk ikan segar, tuna beku, atau dikalengkan. Ikan ini digemari dalam berbagai macam masakan, termasuk untuk dipanggang dan dijadikan sashimi. Madidihang juga merupakan tantangan yang menarik bagi penggemar olahraga memancing.

     

     

     

    2.1.5 Kebiasaan Makan

    Ikan tuna tergolong ikan karnivora. Makananya adalah ikan-ikan yang memiliki ukuran tubuh lebih kecil.

     

    2.1.6 Migrasi

    Menurut Wijopriono dan Abdul (1999), Ikan tuna dan cakalang termasuk dalam kelompok ikan pelagis besar yang bersifat oseanik dan merupakan spesies yang beruaya jauh melintasi batas-batas lautan. Lebih dari dua pertiga hasil tangkapan tuna seluruh dunia tercatat diperoleh dari Lautan Madidihang (Thunnus albacares), tuna sirip biru selatan (T. macoyii), tuna sirip biru (T. thynnus), tuna mata besar (T. obesus), dan cakalang (Katsuwonus pelamis). Ikan madidihang (Thunnus albacares) bersifat epipelagis dan oseanik yang menyukai perairan di atas dan di bawah lapisan termoklin. Tetapi perubahan suhu yang tinggi dalam lapisan termoklin dapat mengakibatkan madidihang meninggalkan lapisan tersebut. Agak berbeda dengan madidihang, tuna mata besar (Thunnus obesus) bersifat epipelagis, mesopelagis, dan oseanik, terdapat pada kedalaman laut hingga 250 m. Suhu dan kedalaman lapisan termoklin merupakan faktor lingkungan utama yang mempengaruhi sebarannya, baik vertical maupun horizontal. Kisaran suhu air dimana dapat ditemukan tuna mata besar adalah antara 13o – 29oC dengan kisaran suhu optimum 17o – 22oC (Collette dan Neuen, 1983)

     

    III. METODOLOGI PRAKTIKUM

     

    3.1. Waktu dan Tempat

    Praktikum ini dilaksanakan pada hari minggu tanggal 1 januari 2012 di pantai kastela pukul 10.00-selesai.

     

    1. Alat dan Bahan

    Alat dan bahan yang digunakan selama penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1.

    Tabel 1. Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian

     

    No

    Alat dan Bahan

    Kegunaan

    1.

    2.

    3.

    4.

    5.

    6.

    7.

    8.

    Timbangan

    Kamera

    Alat tulis menulis

    Bibit rumput laut

    Mistar

    Nampan

    Tissue

    Jarum pentul

    Untuk mengukur berat ikan

    Dokumentasi

    Pencatatan data

    Bahan uji

    Mengukur panjang

    Menaruh objek uji

    Pembersih

    Alat bantu

     

     

    1. Metode Praktikum

    Metode yang dilakukan dalam praktikum ini, yaitu pengamatan secara langsung, dimana data dan informasi yang dibutuhkan dapat diperoleh dengan cara mengamati secara langsung objek yang akan di teliti. Sehingga dapat memberikan gambaran tentang Ciri-ciri eksternal ikan seperti Morfologi tubuh, morfologi kepala dan mata, tanda-tanda pada badan, karakteristik sirip dada, karakteristik sirip ekor, pewarnaan sisip-sirip kecil (finlet)

    3.3.1 Prosedur Praktikum

    Adapun prosedur praktikum yang di lakukan yaitu pertama-tama ikan di ukur panjang dan beratnya. Setelah diukur taruhlah objek uji/ikan yang akan di teliti tersebut di atas nampan dan gunakanlah jarum pentul untuk membuka sirip-siripnya, dan mulai di amati Ciri-ciri eksternal ikan seperti Morfologi tubuh, morfologi kepala dan mata, tanda-tanda pada badan, karakteristik sirip dada, karakteristik sirip ekor, pewarnaan sisip-sirip kecil (finlet).

     

    IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

     

    1. Lampiran Hasil Dan Pembahasan Ikan Madidihang (Thunnus albacares)

    4.1.1 Ciri-Ciri Eksternal

    1. Morfologi tubuh


     

  • Badan memanjang, ekorpun panjang
  • Garis besar badan datar antara sirip punggung kedua dan sirip ekor dan antara sirip anal dan sirip ekor
  1. Morfologi kepala dan mata

  • Panjang dan lebar kepala vs panjang cagak lebih pendek dari pada tuna mata besar
  • Garis tengah mata lebih kecil jika dibandingkan dengan matabesar pada panjang cagak yang sama

 

  1. Panjang sirip dada dan ciri-cirinya

    (untuk ikan kecil kurang dari 40 cm panjang cagak)

 

  • sirip dada pendek, hanya mencapai sirip punggung kedua
  • sirip dada lebih tebal, lebih kaku dan membulat pada ujungnya

     

  1. Panjang sirip dada dan ciri-cirinya

    (untuk ikan ukuran medium 45 – 110 cm FL)


 

  • Sirip dada lebih pendek, lebih tebal, “seperti pedang” dibandingkan dengan jenis ikan tuna seperti tuna mata besar

     

  1. Ciri-ciri sirip ekor
  • Bagian tengah pinggir dari ekor membentuk lekukan”V” yang jelas
  • Ada dua sisir yang jelas menonjol membentuk lekukan “V”

 


 

  • Membentuk lekukan berbentuk “V” atau “M”

 

  1. Warna pada finlet

 

  • Finlet berwarna kuning terang tidak ada warna hitam pada pinggir-pinggirnya

     

 

V. KESIMPULAN DAN SARAN

 

5.1. Kesimpulan

    Berdasarkan hasil praktikum, maka dapat dikemukakan kesimpulan sebagai berikut :

  1. Badan memanjang, ekorpun panjang
  2. sirip dada lebih tebal, lebih kaku dan membulat pada ujungnya
  3. Sirip dada lebih pendek, lebih tebal, “seperti pedang” dibandingkan dengan jenis ikan tuna seperti tuna mata besar
  4. Bagian tengah pinggir dari ekor membentuk lekukan”V” yang jelas
  5. Finlet berwarna kuning terang tidak ada warna hitam pada pinggir-pinggirnya

5.2. Saran

Di sarankan kepada para mahasiswa agar lebih banyak lagi melakukan praktikum yang berkaitan dengan sistem anatomi dan morfologi ikan-ikan pelagis besar. Karena memang penulis sangat menyadari bahwa referensi bacaan untuk ikan-ikan pelagis besarmasih terlalu minim.

 

DAFTAR PUSTAKA

Carpenter, Kent E. & Volker H. Niem. 2001. FAO Species Identification Guide: The Living Marine Resources of The Western Pacific. Vol. 6 : 3753. Food and

Agriculture Organization, Rome.

Balai Riset Perikanan Laut – Muara Baru. 2005. Riset kelimpahan sumberdaya

ikan pelagis besar di laut Halmahera dan laut Sulawesi.

Nontji, A. 1987. Laut Nusantara. Penerbit Djambatan, Jakarta. Hal. 293

http://wikipedia.com

http://devitrialhikmah.blogspot.com di posting november 2012

http://”Tuna – Biology Of Tuna”. Diakses pada 12 September 2009.

http://Status of the World Fisheries for Tuna. ISSF. 10 November 2009.

http://Bradford, Gillian. “Bluefin Tuna Plundering Catches Up With Japan.”

ABC News. October 16, 2006.

http://Eilperin, Juliet. “Saving the Riches of the Sea.” Washington Post.

November 29, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s