Iklim laut hubungannya dengan ekosistem dan sumberdaya


Meteorologi Laut

IKLIM LAUT HUBUNGANNYA DENGAN

EKOSISTEM DAN SUMBER DAYA

 
 

MAKALAH

 
 


 
 

OLEH :

M. ARMAN AHMAD

051609013

 
 

 
 

PROGRAM STUDY MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2012

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur Penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT karena atas Nikmat-Nya terutama nikmat kesehatan dan kesempatan sehingga Penyusun dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Iklim Laut Hubungannya Dengan Ekosistem Dan Sumber Daya”.

Dalam penyusunan makalah ini, berbagai kesulitan Penyusun hadapi, namun kesulitan tersebut dapat teratasi berkat bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempatan ini Saya selaku Penyusun menghanturkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu dalam penyusunan makalah ini.

Dalam makalah ini, Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa masih terdapat kekurangan. Hal ini tidak terlepas dari kemampuan dan keterbatasan Penyusun sebagai manusia biasa. Maka dari itu, kritik maupun saran yang sifatnya membangun dari berbagai pihak sangat Penyusun butuhkan demi menyempurnakan makalah ini. Akhir kata Penyusun mengharapkan agar ini dapat bermanfaat bagi kita semua terutama generasi akademik perikanan.

 
 

Ternate, Juni 2012

                                     Penyusun

 

M. Arman Ahmad

 
 

 
 

 
 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Indonesia mempunyai karakteristik khusus, baik dilihat dari posisi, maupun keberadaanya, sehingga mempunyai karakteristik iklim yang spesifik. Di Indonesia terdapat tiga jenis iklim yang mempengaruhi iklim di Indonesia, yaitu iklim musim (muson), iklim tropica (iklim panas), dan iklim laut. Namun sekarang, iklim di Indonesia menjadi lebih hangat. Iklim tersebut telh berubah sejak abad 20. Suhu rata-rata tahunan telah meningkat sekitar 0,3oC sejak 1900. Curah hujan tahunan telah turun sebesar 2 hingga 3 persen di wilayah Indonesia dalam abad ini. Curah hujan di beberapa bagian wilayah Indonesia ini dipengaruhi kuat oleh kejadian El-Nino. Di lain hal, IPCC juga mengungkapkan bahwa selama 100 tahun terakhir (1906-2005) temperatur permukaan bumi rata-rata telah naik sekitar 0,74oC dengan pemanasan yang lebih besar pada daratan dibandingkan dengan lautan. Tingkat pemanasan rata-rata selama 50 tahun terakhir hampir dua kali lipat dari yang terjadi pada 100 tahun terakhir.

Hal ini dapat menimbulkan dampak yang merugikan akibat perubahan iklim antara lain perubahan pada lingkungan fisik maupun biota sehingga menimbulkan kerusakan pada komposisi, ketahanan, serta produktivitas ekosistem alami. Komposisi ekosistem alami dapat rusak akibat perubahan iklim manakala dampak perubahan iklim tersebut tidak dapat ditolerir oleh komponen pendukung ekosistem. Demikian pula ketahanan komponen ekosistem alami akan mengalami penurunan maupun kerusakan tergantung pada seberapa besar akibat perubahan iklim berpengaruh pada ketahanannya. Pada akhirnya produktivitas pun akan terganggu bila kompisisi serta ketahanan ekosistem terkena dampak perubahan iklim

  1. Tujuan
    1. Agar mahasiswa lebih perhatian terhadap fenomena alam yang terjadi akhir-akhir ini.
    2. Agar mahasiswa dapat melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi lingkungan.

 

  1. Manfaat
    1. Mahasiswa mengerti perubahan fenomena iklim yang terjadi di alam.
    2. Mengetahui hubungan antara tiga elemen penting yaitu iklim laut, ekosistem, dan sumber daya.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Perubahan Iklim

Perubahan iklim merupakan sesuatu yang sulit untuk dihindari dan memberikan dampak terhadap berbagai sektor kehidupan. Indonesia beresiko mengalami kerugian yang signifikan terhadap perubahan iklim tersebut. Karena keberadaannya pulasebagai negara kepulauan, Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Kekeringan yang semakin panjang, frekuensi peristiwa cuaca ekstrem yang semakin sering, dan curah hujan tinggi yang berujung pada bahaya banjir besar; -semuanya merupakan contoh dari dampak perubahan iklim.  Terendamnya sebagian daratan negara, -seperti yang terjadi di Teluk Jakarta-, telah mulai terjadi.  Demikian pula, keberagaman spesies hayati yang sangat kaya dimiliki Indonesia juga berada dalam resiko yang sangat besar.  Pada gilirannya, hal ini akan membawa efek yang merugikan bagi sektor pertanian, perikanan dan kehutanan, sehingga berujung kepada terciptanya ancaman atas ketersediaan pangan dan penghidupa

  1. Dampak Perubahan Iklim

    1. Dampak Terhadap Keanekaragaman Hayati.

Laju perubahan iklim yang cepat melalui pemanasan global merupakan masalah yang cukup serius dihadapi oleh mahluk hidup. Dalam menghadapi hal itu diperlukan adaptasi, antara lain melalui migrasi yang merupakan mekanisme homeostatis mahluk hidup. Sebagai ilustrasi, bila akibat perubahan iklim temperatur naik 3 serajat Celcius, mahluk hidup berusaha bermigrasi secara vertikal ke daerah pegunungan dengan ketinggian 500 m lebih tinggi daripada habitat semula atau bermigrasi secara horisontal sejauh 250 km mendekati kutub untuk mendapatkan habitat dengan suhu yang sesuai.

Hewan yang mobilitasnya relatif lebih tinggi daripada tumbuhan menghadapi berbagai hambatan diantaranya penyempitan habitat (misalnya bila migrasi terjadi di daerah pegunungan). Sehingga menurut teori hubungan antara luas dan jumlah jenis haruslah ada jenis yang punah. Migrasi hor isontal terhalang oleh berbagai factor antara lain terdapatnya daerah pemukiman, pertanian, bentangan gunung yang tinggi, dan hamparan lautan.

Sebagai contoh hewan dan tumbuhan yang dilindungi di taman nasional Ujung Kulon tidak dapat bermigrasi ke selatan karena terdapat Samudra Hindia. Juga bentangan Pegunungan Jaya Wijaya di irian Jaya merupakan hambatan bagi migrasi hewan setempat. Meski hewan dan tumbuhan dapat bermigrasi untuk beradaptasi terhadap kenaikan temperatur akibat perubahan iklim, kecepatan migrasi jenis berbeda-beda sehingga di habitat yang baru terjadi perubahan komunitas hewan dan tumbuhan. Pada umumnya kecepatan migrasi jenis tumbuhan lebih rendah daripada kecepatan migrasi hewan. Dalam kasus ini bila tumbuhan tersebut merupakan makanan utama jenis hewan yang bermigrasi maka hewan tersebut di habitat yang baru kurang tidak mendapat makanan utama. Akibatnya akan berpengaruh terhadap kehidupannya dan bila hewan tersebut tidak mampu beradaptasi dengan jenis makanan yang tersedia di habitat yang baru, populasinya akan terhambat bahkan akhirnya dapat punah.

  1. Dampak Terhadap Ekosistem Laut Dan Pantai

Pemanasan global akibat perubahan iklim selain menaikkan permukaan air laut akibat pemuaian volume air dan pencairan salju, juga menaikkan suhu air laut. Hal itu akan berpengaruh terhadap interaksi laut dan atmosfer, yang selanjutnya akan mempengaruhi perubahan iklim. Perbedaan temperatur antara udara diatas daratan dan lautan menimbulkan angin sepanjang garis pantai yang kuat. Sedangkan perbedaan temperatur air laut dan di dasar laut akan menimbulkan arus keatas (upwilling). Bila hal ini terjadi dengan intensitas yang tinggi diduga akan menambah frekuensi peristiwa siklon tropis yang disertai perluasan wilayahnya. Suhu permukaan air laut yang tinggi kemungkinan meningkatkan terjadinya El Nino yang mengakibatkan cuaca buruk dan mengganggu sirkulasi laut.

Ekosistem pantai sangat tergantung pada laut. Bila permukaan air laut naik akibat prubahan iklim, maka sedimen yang terjebak dalam hutan mangrove akan terhanyut oleh arus pasang surut. Bila itu terjadi maka berbagai biota laut yang hidup dalam ekosistem pantai tersebut akan terganggu populasinya. Terumbu karang sangat peka terhadap perubahan temperatur dan tingkat sedimentasi. Bila temperature kurang dari 18 derajat Celcius terumbu karang akan mati sehingga akan berpengaruh terhadap kehidupan biota laut. Juga tingkat sedimentasi yang tinggi akan memperkeruh air laut sehingga sinar matahari tidak dapat menembus sampai pada dasar laut habitat terumbu karang. Bila itu terjadi maka fotosintesis akan terganggu sehingga pertumbuhan terumbu karang juga akan terganggu.

  1. Dampak Terhadap Lapisan Salju, Es Glasier, Permafrost, Dan Sirkulasi Hidrologi

Salju es dan permaf rost (dataran beku bersuhu nol derajat Celcius) merupakan sumberdaya air yang meliputi luas 41 juta km persegi. Lapisan salju pada daerah tertentu yang menutupi tanah selama 9 bulan dalam setahun dapat mengurangi panas yang diserap oleh tanah. Akibat perubahan iklim, lapisan salju melebur dan tanah akan lebih banyak menyerap panas matahari. Umpan balik dari peleburan lapisan salju tersebut akan meningkatkan pemanasan global.

Demikian pula halnya terhadap hamparan es dan glasier, yang akhirnya akan berakibat terhadap kenaikkan permukaan air laut. Dalam waktu 250 tahun hamparan es di Greenland berkurang volumenya sebesar 3 % dan permukaan laut naik setinggi 0,2 m.

Reaksi glasier atas pemanasan akibat perubahan iklim sangat tergantung pada tempat dan perubahan presipitasinya. Galsier yang berada di kepulauan bekas wilayah Uni Sovyet diprediksi akan hilang dalam beberapa dasawarsa akibat presipitasinya hanya dapat mengkompensasi kehilangan 10 – 15 %. Peningkatan temperatur sebesar 3 derajat Celcius dapat membelah wilayah Pegunungan Alpen di Austria yang tertutup glasier menjelang tahun 2050. Dataran beku bersuhu nol derajat Celcius merupakan tanah yang tetap berada pada temperatur nol derajat Celcius atau dibawahnya, yang terdiri atas es dengan berbagai bentuk mulai dari partikel kecil di pori-pori tanah hingga wilayah es yang luas dengan ketebalan beberapa meter.

Pemanasan yang cepat mempengaruhi lapisan teratas dataran beku bersuhu nol derajat Celcius setebal 5 m yang pada wilay ah tertentu (misalnya Siberia Barat dan Lingkaran Atlantik Utara) akan menghilang dalam beberapa dasawarsa. Namun pencairan dataran beku bersuhu nol derajat Celcius tersebut secara penuh akan memerlukan waktu berabad-abad. Kenaikkan temperatur 2 derajat Celcius akan mengakibatkan gerakan mundur dataran beku bersuhu nol derajat Celcius di Kanada sejauh 700 km ke utara. Survei yang dilakukan pemerintah Cina membuktikan 40 – 50 % wilay ah dataran beku bersuhu nol derajat Celcius akan berkurang.

Siklus hidrologi terpengaruh oleh kenaikkan temperatur akibat perubahan iklim karena laju penguapan air dari tanah dan kelembaban tanah juga terkena dampak kenaikkan temperatur. Sumber daya air di daerah tandus dan semi tandus sangat peka terhadap perubahan kecil temperature dan curah hujan. Suatu hasil penelitian di AS menunjukkan kenaikkan temperatur 1 – 2 derajat Celcius dan berkurangnya presipitasi 10 % akan menurunkan ketersediaan air separuh dari semula di daerah tandus dan semi tandus. Kenaikkan temperatur juga akan mempengaruhi pasok air yang berasal dari pencairan salju. Pada musim dingin air disimpan dalam bentuk salju dan secara bertahap dilepas pada saat meleleh di musim semi dan panas. Pada bagian bumi yang lebih panas akan lebih banyak hujan dan sedikit salju. Sungai-sungai di daerah ini menjadi sangat kering di musim panas dan meluap pada waktu musim hujan.

 

 

BAB III

KESIMPULAN

Dampak yang merugikan akibat perubahan iklim antara lain perubahan pada lingkungan fisik maupun biota sehingga menimbulkan kerusakan pada komposisi, ketahanan, serta produktivitas ekosistem alami. Komposisi ekosistem alami dapat rusak akibat perubahan iklim manakala dampak perubahan iklim tersebut tidak dapat ditolerir oleh komponen pendukung ekosistem. Demikian pula ketahanan komponen ekosistem alami akan mengalami penurunan maupun kerusakan tergantung pada seberapa besar akibat perubahan iklim berpengaruh pada ketahanannya. Pada akhirnya produktivitas pun akan terganggu bila kompisisi serta ketahanan ekosistem terkena dampak perubahan iklim.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://urbandepan.blogspot.com/2011/11/makalah-tentang-iklim-geografi.html

http://iklim.dirgantara.lapan.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=85&Itemid=78

http://mazara30.wordpress.com/2012/06/24/iklim-laut-hubungannya-dengan-ekosistem-dan-sumberdaya/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s