Ampas kelapa bahan baku pakan


Tugas

AMPAS KELAPA SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN

 


 

OLEH :

NAMA             : IMRAN ODE PADJALI

NPM             : 051 709 009

SEMESTER         : V (Lima)

 

PROGRAM STUDY BUDIDAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2011

  1. Pendahuluan

Tanaman kelapa (Cocos nucifera L.) termasuk jenis tanaman palma yang memiliki
multi fungsi karena hampir semua bagian dari
tanaman tersebut dapat dimanfaatkan. Tanaman
ini banyak dijumpai di Indonesia yang
merupakan penghasil kopra terbesar kedua di
dunia, sesudah Phillipina. Usaha budidaya
tanaman kelapa melalui perkebunan terutama
dilakukan untuk memproduksi minyak kelapa
yang berasal dari daging buahnya dengan hasil
samping berupa ampas kelapa.
Pada proses pembuatan minyak kelapa
murni (Virgin Coconut Oil), daging kelapa
segar yang telah diparut kemudian dikeringkan
dan dipres hingga minyaknya terpisah. Hasil
samping dari proses pembuatan minyak kelapa
murni ini adalah ampas kelapa. Ampas kelapa
hasil samping pembuatan minyak kelapa murni
masih memiliki kandungan protein yang cukup
tinggi. Hal ini menyebabkan ampas kelapa
berpotensi untuk dimanfaatkan dan diolah
menjadi pakan. Menurut DERRICK (2005),
protein kasar yang terkandung pada ampas
kelapa mencapai 23%, dan kandungan seratnya
yang mudah dicerna merupakan suatu
keuntungan tersendiri untuk menjadikan ampas
kelapa sebagai bahan pakan pedet (calf).

 

  1. Karakteristik kimia ampas kelapa segar

Hasil analisis proksimat ampas kelapa seperti disajikan pada Tabel 1. Dari hasil analisis diketahui bahwa ampas kelapa sebagai produk samping pengolahan minyak kelapa murni memiliki kadar protein kasar masih relative tinggi yaitu sebesar 11,35% dengan kadar lemak kasar 23,36%. Protein merupakan salah satu komponen yang terpenting pada pakan sehingga tingginya kadar protein pada ampas kelapa merupakan suatu keuntungan untuk diolah menjadi pakan. Namun demikian, lemak yang cukup tinggi merupakan kendala pada pengolahan ampas kelapa yang akan diolah menjadi pakan karena akan mempengaruhi kualitas pakan yang dihasilkan terutama dalam mempengaruhi umur simpan dan daya cerna pakan.

 

Tabel 1. Hasil analisis proksimat terhadap ampas kelapa segar

Komposisi                     Kadar (%)

Kadar air                    11,31

Protein kasar                    11,35

Lemak kasar                    23,36

Serat makanan                    5,72

Serat kasar                    14,97

Kadar abu                    3,04

Kecernaan bahan kering in vitro        78,99

Kecernaan bahan organik in vitro        98,19

 

  1. Karakteristik fisik dan kimia ampas kelapa setelah difermentasi

Komposisi kimia ampas kelapa setelah difermentasi seperti disajikan pada Tabel 2. Fermentasi merupakan salah satu metode yang digunakan dalam mengolah ampas kelapa menjadi pakan dengan menggunakan spora Aspergillus niger. Proses fermentasi dilakukan dalam 2 tahapan, yaitu fermentasi aerob dan fermentasi an aerob (proses enzimatis), sebelumnya telah dilakukan pada bungkil kelapa (PURWADARIA et al., 1995; HELMI et al. 1999). Pertumbuhan Aspergillus niger pada proses fermentasi ditandai dengan adanya miselium. Secara visual pertumbuhan miselium dapat dilihat dengan timbulnya serabut-serabut menyerupai benang halus dan memadatnya ampas. Perlakuan fermentasi menghasilkan struktur, warna, bau, dan juga komposisi kimia yang berbeda dari ampas kelapa yang belum difermentasi, terutama dalam meningkatkan kadar protein dan menurunkan lemak. Fermentasi juga menyebabkan kehilangan berat kering pada ampas, yaitu sebesar 16,67% pada ampas yang telah difermentasi secara aerob dan 5% setelah proses enzimatis. Analisis yang dilakukan terhadap kehilangan bahan kering menunjukkan terjadinya kehilangan bobot air selama proses fermentasi. Hal tersebut disebabkan oleh adanya perubahan senyawa komplek menjadi senyawa yang lebih sederhana selama proses fermentasi, dimana pada saat itu juga terjadi pelepasan molekul air. Secara visual pelepasan molekul air dapat terlihat dengan adanya air pada plastik yang digunakan sebagai wadah/tempat ampas difermentasi.

 

Tabel 2. Hasil analisis kandungan kimia ampas kelapa hasil fermentasi

Komposisi                         Kadar

Kadar air (%)                         8,32

Protein (%)                         26,09

Asam amino (%)                

asam aspartat                     0,16

asam glutamat                 1,268

serin                         0,216

glisin                         0,132

histidin                     0,213

arginin                     0,681

threonin                     0,229

alanin                         0,214

prolin                         0,303

tirosin                         0,277

valin                         0,300

methionin                     1,224

sistin                         0,164

isoleusin                     0,249

leusin                         0,825

phenilalanin                     0,324

lisin                         0,315

Lemak (%)                     20,70

Aflatoksin (ppb)

B1                         < 4

B2                         < 3

G1                         < 4

G2                         < 3

Kecernaan Bahan Kering in vitro (%)        95,1

Kecernaan bahan organic in vitro (%)        98,82

 

 

Fermentasi ampas kelapa juga mampu meningkatkan kecernaan bahan kering dan bahan organik, dimana komponen ini diperlukan untuk mengetahui sejauh mana pakan tersebut dapat dipergunakan dan dicerna oleh ternak. Hasil analisa menunjukkan bahwa kecernaan bahan kering (KCBK) dan bahan organik (KCBO) secara in vitro ampas kelapa sebelum dan setelah difermentasi cukup tinggi (Tabel 1 dan 2). Peningkatan kecernaan bahan kering ampas setelah difermentasi menunjukkan adanya proses pemecahan bahan yang tidak dapat dicerna. Penggunaan suhu ruang pada proses enzimatis juga mendukung diperolehnya nilai kecernaan yang tinggi (SUPRIYATI et al., 1999). PURWADARIA et al. (1995) menerangkan bahwa pada proses enzimatis bungkil kelapa ternyata suhu kamar lebih efektif dibandingkan dengan suhu 50°C. Menurut SUDARMADJI et al. (1989) efektifitas proses enzimatis juga dipengaruhi oleh suhu optimum berkembangnya Aspergillus niger yaitu 35 – 37°C. Aflatoksin merupakan toksin yang dihasilkan oleh jenis kapang Aspergillus terutama Aspergillus flavus dan memiliki daya racun yang cukup tinggi. Kandungan aflatoksin pada pakan dapat dijadikan indikator aman tidaknya pakan tersebut untuk diberikan kepada ternak. Hasil analisis terhadap aflatoksin produk hasil fermentasi ampas kelapa yang dilakukan pada penelitian ini mempunyai kandungan aflatoksin yang relative aman untuk ternak, dimana ambang batas yang diijinkan untuk pakan ternak yaitu pakan dengan kandungan Aflatoksin < 20 ppb.


 

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s