Budidaya kerang hijau

BUDIDAYA KERANG HIJAU (Perna viridis)


 

 

 

 

 

OLEH :

 

IMRAN ODE PADJALI & NOFDI USMAN

 

 

PROGRAM STUDY BUDIDAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2012

 

HAK POSTINGAN DENGAN RESMI DIPEGANG OLEH :

ARMAN MAZARA AHMAD

Dalam blog :

Serdaducemara.wordpress.com

 

 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat dan kesempatan yang diberikan kepada penulis sehingga Alhamdulillah makalah ini dapat terselesaikan dengan baik.

 

Makalah ini banyak mengalami hambatan dan tantangan, namun berkat adanya bimbingan dan dorongan serta motifasi dari Dosen maupun teman-teman makalah ini dapat terselesaikan.

 

Kami selaku Penulis sadar akan kemampuan dan kekurangan kami sebagai hamba ciptaan Allah SWT, oleh karena itu sangat mungkin jika terdapat kekeliruan dan kesalahan dalam penulisan makalah ini. Olehnya itu,kritikan dan saran sangat penulis harapkan dari segenap hati dan pikiran pembaca demi membenahi kekurangan yang terdapat dalam makalah ini. Amin.

 

    
 

                         Ternate, Maret 2012

 

 

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR    

DAFTAR ISI    

BAB I PENDAHULUAN    

  1. Latar Belakang……………………………………………………………………………………..
  2. Tujuan Dan Manfaat………………………………………………………………………………

BAB II TINJAUAN PUSTAKA    

2.1 Klasifikasi Kerang Hijau    

2.2 Morfologi Kerang Hijau    

2.3 Sistem reproduksi    

2.4 Kebiasaan makan dan cara makan    

2.5 Kandungan Gizi kerang Hijau    

BAB III PEMBAHASAN    

3.1 Metode Budidaya    

3.2 Proses pemeliharaan    

3.3 Pengendalian Hama dan Penyakit    

3.4 Panen    

BAB IV PENUTUP        

4.1 Kesimpulan    

4.2 Saran    

DAFTAR PUSTAKA    

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kerang hijau termasuk moluska yang mempunyai cangkang yang simetris. Panjang cangkangnya lebih dari dua kali lebarnya, mempunyai insang yang berlapis-lapis dan mempunyai cilia. Hidup menempel pada benda-benda keras dengan bantuan benang byssus yang dihasilkan oleh kelenjar kaki (Asikin,1982).

Kerang hijau merupakan hasil laut segar yang dikonsumsi luas oleh masyarakat. Hewan ini banyak dimanfaatkan sebagai salah satu sumber protein hewani. Kerang hijau mempunyai nama lokal yang berbeda disetiap tempat, seperti kijing (Jakarta), kedaung (Banten), dan kemudi kapal (Riau). Di negara-negara Asia Tenggara, kerang hijau dikenal dengan sebutan siput sudu (Malaysia), chaff luan (Singapura), to hong (Philipina) dan hai mong poo (Thailand).

Pengertian kerang bersifat umum dan tidak memiliki arti secara biologi namun penggunaannya luas dan dipakai dalam kegiatan ekonomi. Dalam pengertian paling luas, kerang berarti semua moluska dengan sepasang cangkang. Dengan pengertian ini, lebih tepat orang menyebutnya kerang-kerangan dan sepadan dengan arti clam yang dipakai di Amerika. Kata kerang dapat pula berarti semua kerang-kerangan yang hidupnya menempel pada suatu obyek. Semua kerang-kerangan memiliki sepasang cangkang (disebut juga cangkok atau katup) yang biasanya simetri cermin yang terhubung dengan suatu ligamen (jaringan ikat). Pada kebanyakan kerang terdapat dua otot adduktor yang mengatur buka-tutupnya cangkang.

Kerang tidak memiliki kepala (juga otak) dan hanya simping yang memiliki mata. Organ yang dimiliki adalah ginjal, jantung, mulut, dan anus. Kerang dapat bergerak dengan “kaki” berupa semacam organ pipih yang dikeluarkan dari cangkang sewaktu-waktu atau dengan membuka-tutup cangkang secara mengejut. Sistem sirkulasinya terbuka, berarti tidak memiliki pembuluh darah. Pasokan oksigen berasal dari darah yang sangat cair yang kaya nutrisi dan oksigen yang menyelubungi organ-organnya. Makanan kerang adalah plankton, dengan cara menyaring. Kerang sendiri merupakan mangsa bagi cumi-cumi dan hiu. Semua kerang adalah jantan ketika muda. Beberapa akan menjadi betina seiring dengan kedewasaan.

Budidaya kerang hijau atau biasa dikenal dipasaran dengan nama kerang Kupang Awung ternyata tidaklah sulit, disamping dengan biayah murah, budidaya kerang hijau ternyata menguntungkan.

Kerang hijau ini merupakan salah satu jenis kerang yang banyak digemari untuk dikonsumsi karena memiliki kandungan gizi yang cukup baik. Berdasarkan hasil penelitian, kandungan gizi daging kerang hijau sebanding dengan daging sapi, telur ataupun daging ayam. Dalam habitat yang normal, kandungan kerang hijau terdiri dari air, protein, lemak serta karbohidrat. Karena itulah, kerang hijau bermanfaat untuk meningkatkan kerja organ hati manusia, mengobati rematik termasuk meningkatkan daya tahan tubuh. Kerang hijau merupakan salah satu jenis kekerangan yang mempunyai nilai ekonomis. Rasanya yang enak didukung kadar protein yang tinggi menjadikan kerang hijau sebagai makanan yang menyehatkan.

1.2 Tujuan Dan Manfaat

Tujuan dari makalah adalah sebagai berikut :

  1. Agar mahasiswa dapat mengetahui cara budidaya kerang Hijau
  2. Agar mahasiswa dapat mengetahui metode budidaya kerang hijau
  3. Agar mahasiswa dapat mengetahui hambatan atau permasalahan dalam pemeliharaan kerang hijau serta mengetahui cara mengatasi hambatan atau permasalahan yang terjadi di areal lokasi budidaya kerang hijau

     Sedangkan manfaat dari makalah ini dapat memberikan informasi kepada petani budidaya bagaimana cara budidaya kerang hijau yang baik dan benar.

 
 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi Kerang Hijau

Kerang Hijau (Perna viridis) termasuk binatang lunak (moluska) yang hidup di laut, bercangkang dua dan berwarna hijau. Kerang hijau merupakan organisme yang termasuk kelasPelecypoda. Golongan biota yang bertubuh lunak (mollusca). Kerang hijau merupaka Hewandari kelas pelecipoda kelas ini selalu mempunyai cangkang katup sepasang maka disebutsebagai Bivalvia. Hewan ini disebut juga yaitu pelecys yang artinya kapak kecil dan podosyang artinya kaki. Jadi Pelecypoda berarti hewan berkaki pipih seperti mata kapak. Hewankelas ini pun berinsang berlapis-lapis maka sering disebut Lamelli branchiata (Kastawi, 2008).

 

 

 

 

 

 

Gambar 1 : kerang hijau (Perna viridis)

(Sumber : Asikin, 1982)

 

Adapun klasifikasi ilmiah dari kerang hijau menurut Dance (1977) adalah sebagai berikut:

Filum         : Mollusca

Kelas         : Bivalvia

Subkelas     : Lamelibranchiata

Superordo     : Filibrachiata

Ordo         : Anisomaria

Famili         : Mitylidae

Genus         : Perna

Spesies        : Perna viridis L

Nama dagang : green mussel

Nama lokal : sirindit, kerang kuku

2.2 Morfologi Kerang Hijau

Jika dibuat sayatan memanjang dan melintang, tubuh kerang akan tampak bagian-bagian sebagai berikut. Paling luar adalah cangkang yang berjumlah sepasang, fungsinya untuk melindungi seluruh tubuh kerang. Mantel, jaringan khusus, tipis dan kuat sebagai pembungkus seluruh tubuh yang lunak. Pada bagian belakang mantel terdapat dua lubang yang disebut sifon.Sifon atas berfungsi untuk keluarnya air, sedangkan sifon bawah sebagai tempat masuknya air.Insang, berlapis-lapis dan berjumlah dua pasang. Dalam insang ini banyak mengandung pembuluh darah. Kaki pipih. Bila akan berjalan kaki dijulurkan ke anterior. Di dalam rongga tubuhnya terdapat berbagai alat dalam seperti saluran pencernaan yang menembus jantung, alat peredarn, dan alat ekskresi (ginjal) (Kastawi, 2008)

Cangkang kerang terdiri atas tiga lapis, yaitu urut dair luar ke dalam sebagai berikut:

  1. Periostrakum, merupakan lapisan tipis dan gelap yang tersusun atas zat tanduk yangdihasilkan oleh tepi mantel; sehingga sering disebut lapisan tanduk, fungsinya untuk melindungi lapisan yang ada di sebelah dalamnya dan lapisan ini berguna untuk melindungicangkang dari asam karbonat dalam air serta memberi warna cangkang.. 
  2. Prismatic, lapisan tengah yang tebal dan terdiri atas kristal-kristal kalsium karbonat yang berbentuk prisma yang berasal dari materi organik yag dihasilkan oleh tepi mantal.
  3. Nakreas merupakan lapisan terdalam yang tersusun atas kristal-kristal halus kalsium karbonat. merupakan lapisan mutiara yang dihasilkan oleh seluruh permukaan mantel. Dilapisan ini, materi organik yang ada lebih banyak daripada di lapisan prismatic. Lapisan initampak berkilauan dan banyak terdapat pada tiram/kerang mutiara. Jika terkena sinar, mampu memancarkan keragaman warna. Lapisan ini sering disebut sebagai lapisan mutiara(Sa’adah, 2010).

Alat pernapasan kerang berupa insang dan bagian mantel. Insang kerang berbentuk W dengan banyak lamella yang mengandung banyak batang insang. Pertukaran O2 dan CO2 terjadi pada insang dan sebagian mantel. Mantel terdapat di bagian dorsal meliputi seluruh permukaan dari cangkang dan bagian tepi. Antara mantel dan cangkang terdapat rongga yang di dalamnya terdapat dua pasang keping insang, alat dalam dan kaki. Alat peredaran darah sudah agak lengkap dengan pembuluh darah terbuka. System pencernaan dari mulut sampai anus (Sa’adah,2010). Sistem sarafnya terdiri dari 3 pasang ganglion yang saling berhubungan yaitu ganglion anterior terdapat di sebelah ventral lambung, ganglion pedal terdapat pada kaki, ganglion posterior terdapat di sebelah ventral otot aduktor posterior.

2.3 Sistem reproduksi

Kerang berkembang biak secara kawin. Umumnya berumah dua dan pembuahannya internal. Telur yang dibuahi sperma akan berkembang manjadi larva glosidium yang terlintang oleh dua buah katup. Ada beberapa jenis yang dari katupnya keluar larva panjang dan hidupsebagai parasit pada hewan lain, misalnya pada ikan. Setelah beberapa lama larva akan keluar dan hidup sebagaimana nenek moyangnya (Sa’adah, 2010). Dalam reproduksinya, Hewan ini memiliki alat kelamin yang terpisah atau diocious, bersifat ovipora yaitu memiliki telur dan sperma yang berjumlah banyak dan mikroskopik. Induk kerang hijau yang telah matang kelamin mengeluarkan sperma dan sel telur kedalam air sehingga bercampur dan kemudian terjadi pembuahan, telur yang telah dibuahi tersebut setelah 24 jam kemudian menetas dan tumbuh berkembang menjadi larva kemudian menjadi spat yang masih bersifat planktonik hingga berumur 15-20 hari kemudian benih/ spat tersebut menempel pada substrat dan akan menjadi kerang hijau dewasa (Induk) setelah 5 – 6 bulan kemudian.

 

2.4 Kebiasaan makan dan cara makan

Kerang hijau makan dengan cara menyaring makanan yang terlarut di dalam air (filter feeder) (Riani, 2004). Kerang hjau digolongkan dalam kelompok filter feeder, karena kerang hijau memperoleh makanan dengan cara menyaring partikel-partikel atau organisme mikro yang berada dalam air dengan menggunakan sistem sirkulasi. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Vikaly (1989) yang menyatakan semua bivalva lamelli branch termasuk filter feeder. Cilia khusus terletak antara filamen insang yang berfungsi menghasilkan aliran air yang memindahkan air ke dalam bagian inhalent pada mantle cavity (rongga mantel) dan ke arah atas ke dalam rongga exhalent (Martin, 2005).

Partikel makanan atau material tersuspensi lainnya yang berukuran lebih besar dari ukuran tertentu disaring dan air oleh cilia insang dan dihimpun pada bagian rongga inhalent berhadapandengan lamellae insang. Material ini kemudian dipindahkan oleh cilia lainnya ke arah tepi bagian ventral insang atau di bagian dasar organ yang berbentuk huruf-W dimana terletak alur makanan (food grooves). Setelah berada di food grooves, makanan bergerak ke arah depan hingga mencapai palps, yang berada di sisi mulut. Material berukuran halus dibawa oleh cilia ke dalam mulut. Partikel yang lebih kasar dihimpun di tepi palps dari secara periodik dikeluarkan oleh proses kontraksi otot ke dinding mantel (Martin, 2005).

2.5 Kandungan Gizi kerang Hijau

Kerang hijau (Perna viridis) merupakan salah satu jenis kerang yang digemari masyarakat, memiliki nilai ekonomis dan kandungan gizi yang sangat baik untuk dikonsumsi,yaitu terdiri dari 40,8 % air, 21,9 % protein, 14,5 % lemak, 18,5 % karbohidrat dan 4,3 % abu sehingga menjadikan kerang hijau sebanding dengan daging sapi, telur maupun daging ayam.Meskipun daging kerang hijau hanya sekitar 30% dari bobot keseluruhan (daging dancangkang), tetapi dalam 100 gr daging kerang hijau mengandung 100 kalori yang tentunya sangat bermanfaat untuk ketahanan tubuh manusia. Selain itu, pada daging kerang hijau juga terdapat zat yang dapat membantu meningkatkan kerja organ hati dalam tubuh manusia.Sedangkan ekstrak daging kerang hijau bermanfaat sebagai anti rematik dan arhtritis (penyakit radang sendi). Selain untuk konsumsi manusia daging kerang hijau digunakan pula sebagai alternatif pengganti tepung ikan (Anonimus 2008).

Bivalvia seperti kerang hijau memiliki keunggulan sebagai bioindikator untuk memonitor substansi organik yang terdapa dilaut karena memiliki distribusi yang luas, hidup menetap, mudah disampling, memiliki toleransi terhadap salinitas yang luas, resisten terhadap stress dan bahan berbagai kimia yang terakumulasi dengan jumlah besar merupakan konsep ´MusselWatch (Goldberg , 1978) Kerang hijau memiliki distribusi yang luas pada wilayah Asia pasifik dan memiliki nilai komersial sebagai seafood yang telah terkenal dibelahan dunia. Kerang hijau telah digunakan sebagai biological indocator unuk memonitor kandungan residu pestisida organochlorine pada beberapa negara Asia seperti Thailand (Martin, 2005).

Bivalva moluska Perna viridis digunakan sebagai bioindikator dan atau biomonitoring karena insangnya yang merupakan organ respirasi dan kelenjar digestif dipergunakan sebagai spesimen eksperimen pengukur respon perubahan oksidatif.

Kerang hijau memiliki kemampuan ketahanan terhadap perubahan suhu dan kandungan logam beracun yang terkandung dalam perairan, sehingga dapat disimpulkan, bivalva merupakan model yang representatif untuk studi pengaruh dalam mekanisme pertahanan menggunakan antioksidan (Verlecar, 2006).

Perna viridis merupakan excellent bioindikator untuk studi tembaga (Cu) dan timah (Pb). Perna viridis digunakan untuk mengamati kandungan cadnium, mercury dan zinc. Pada jaringan insang Perna viridis, terjadi regulasi metabolisme parsial sehingga mengakumulasi zinc. Hal yang sama terjadi pada akumulasi logam berat lain (Phillips, 1985).

Faktor lingkungan yang mempengaruhi kelangsungan hidup kerang hijau adalah suhu, salinitas, tipe dasar perairan, kedalaman, kekeruhan, arus dan oksigen terlarut. kerang hijau tumbuh baik pada perairan yang memiliki salinitas 27-35 o/oo, temperatur antara 27-32ºC, arus yang tidak begitu keras dan hidup pada kedalaman 1-7 m serta mengambil protein nabati sebagai makanannya. Perna viridis menyebar luas di perairan laut dan toleran terhadap perairan yang terkontaminasi logam serta dapat bertahan terhadap fluktuasi salinitas dan suhu.

 

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Metode Budidaya

Budidaya kerang hijau dapat dilakukan dengan menggu-nakan 4 macam metoda yaitu: metoda tancap (post method), rakit apung (raft method), rakit tancap/rak (rack method) dan tali rentang (long line method). Sedangkan kondisi lingkungan perairan antara lain harus terhindar dari gangguan arus kencang, perubahan suhu yang mendadak, dan salinitasnya antara 27-35 permil. Selain itu harus terhindar dari fluktuasi kadar garam yang tinggi, jauh dari pengaruh sungai besar, bebas dari pencemaran limbah industri dan rumah tangga karena dapat membahayakan untuk dikonsumsi.

Kita akan ambil salah satu contoh teknik budidaya kerang hijau dengan menggunakan metode rakit apung. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuatnya antara lain: tali, rakit (terdiri dari tali, bambu, pelampung) dan jangkar. Rakit yang digunakan dalam metoda ini berfungsi untuk mengumpulkan spat (benih kerang). Dan sekaligus sebagai tempat pembesaran dengan menggunakan tali kolektor tempat menempelnya spat. Rakit terdiri dari tiga bagian utama, yaitu kerangka untuk menggantungkan tali dan unit pelampung. Guna menyangga rakit supaya tetap menga-pungserta jangkar atau pemberat sebagai penahan rakit.

Ada dua macam bahan yang digunakan untuk membuat kerangka yaitu bambu dan kayu, namun pada umumnya yang digunakan adalah bahan dari bambu. Untuk rakit dengan ukuran 6m x 8m (48 m2) dibutuhkan bambu 18 batang. Dengan jumlah tali gantungan untuk 1 unit adalah 96 tali dengan panjang 3 meter per tali. Sedangkan untuk pelampung menggunakan drum plastik sebanyak 8 buah. Dan untuk pemberatnya menggunakan karung semen sebanyak 2 buah dengan bobot masing-masing pemberat 25 kg.       

Metode budi daya kerang hijau terbagi atas empat kelompok, yaitu metode tancap, metode rakit apung, metode rakit tancap, dan metode tali rentang (long line).

1) Metode tancap

Metode ini menggunakan tonggak kayu atau bambu yang ditancapkan ke dasar perairan. Oleh karena itu, metode ini hanya dapat diterapkan di daerah pantai yang dasarnya berlumpur. Metode yang sangat sederhana ini cocok untuk perairan dengan kedalaman 3-5 cm.

Panjang bambu yang digunakan antara 5-10 m. Ujung atasnya harus tetap terendam air sewaktu air surut terendah. Tonggak yang digunakan kerap kali dirangkaikan satu sama lain sehingga berbentuk bagan tancap. Untuk 1 ha, usaha budi daya kerang dibutuhkan kurang lebih 500 batang bambu.

Bambu atau kayu yang digunakan tersebut sering cepat rusak karena membusuk ataupun dilubangi oleh hewan-hewan penggerek. Secara normal, setiap metode tancap dapat menghasilkan 10 kg/m. Satu kolektor tancap dapat menghasilkan lebih kurang 3o kg kerang per tahun.

2) Metode rakit apung

Bahan yang digunakan pada metode ini terdiri atas tali dan rakit (tali, bambu, pelampung, dan jangkar). Metode ini biasanya digunakan pada perairan dengan kedalaman 3-4 m pada saat surut terendah. Untuk ukuran satu unit rakit, dapat dibuat 6 m x 8 m, 5 x 5 m, 15 x 15 m, atau 3o x 30 m yang diberi jarak pada rakit untuk pelampung.

3) Metode rakit tancap

Pembesaran kerang hijau dengan metode rakit tancap ini hampir sama dengan pembesaran rakit apung. Perbedaannya pada penggunaan pelampung. Rakit tancap, menggunakan kayo atau bambu yang ditancapkan pada dasar perairan sehingga tidak bergerak. Penempatan rakit harus memperhitungkan tinggi rendah pasang surut untuk menghindari rakit dari kekeringan. Ukuran rakit biasanya 4 m x 4 m dengan kebutuhan material berupa bambu diameter 4-5 cm sebanyak 15-2o batang, tali temali (polietilen) 3-5 kg, dan kawat 2-3 gulung/kg.

Jumlah kerang hijau per kolektor atau tali pembesaran yang dapat diperoleh selama pembesaran 6-7 bulan untuk satu kali antara 20-25 kg. Dengan demikian, produksi total dalam 1 rakit tancap ukuran 4 m x 4 m adalah kurang lebih 40o kg.

 

4) Metode tali rentang (long line)

Metode ini disebut juga dengan metode tali memanjang atau long line, yaitu merentangkan tali secara memanjang/horizontal. Metode ini menggunakan pelampung besar yang dihubungkan satu dengan yang lainnya untuk memberikan daya apung pada tali. Setiap deret tali penyangga pada kedua ujung terakhir diikatkan pada jangkar untuk menjaga agar pelampung tidak tertarik ke tengah pada saat penambahan berat.

Keuntungan dari metode ini adalah lebih fleksibel/tidak kaku dan memiliki ketahanan paling tinggi terhadap ombak serta angin. Dengan demikian, bahaya kerusakan dan kerugian yang diakibatkan gelombang dan angin dapat diperkecil. Satu unit berukuran 4 tali jalur dengan panjang tali 70 m bisa dipasang 56o tali kolektor.

 

3.2 Proses pemeliharaan

Proses pemeliharaan menjadi unsur yang menentukan keberhasilan budi daya kerang hijau. Hal-hal yang perlu dilakukan dalam proses pemeliharaan kerang hijau adalah sebagai berikut.

1) Sortasi

Penyortiran perlu dilakukan agar kerang hijau yang dihasilkan seragam sehingga produksi dan waktu panen dapat ditentukan. Penyortiran dilakukan karena kerang hijau yang menempel pada tali kolektor sering kali tidak seragam ukurannya.

2) Penambahan pelampung

Penambahan pelampung dilakukan saat terjadi penambahan beban tali yang disebabkan oleh pertumbuhan dan pertambahan bobot kerang hijau. Penambahan pelampung berguna untuk menyangga tali agar tetap mengapung.

 

 

3.3 Pengendalian Hama dan Penyakit

Hama yang biasa menyerang budi daya kerang hijau adalah jenis teritip (Teredo sp. dan Manus sp.), bintang laut, burung, dan kepiting. Sedangkan Kepiting adalah hama utama bagi juvenile dan kerang dewasa. Kepiting dapat menghabiskan satu lusin kerang hijau setiap harinya. Sementara itu, teritip dan hewan penempel lainnnya akan sangat mengganggu pertumbuhan kerang hijau. Sampai saat ini di Indonesia belum didapati penyakit yang mengancam budi daya kerang hijau. Kerang hijau sendiri dapat terjangldt penyakit yang disebabkan oleh pencemaran di atas ambang batas.

3.4 Panen

Kerang hijau dapat dipanen setelah berumur 5-6 bulan masa pemeliharaan. Ukuran kerang hijau dapat dikonsumsi adalah 6-8 cm. Ciri lainnya adalah daging tebal dan berwarna krem. Beberapa hal yang perlu diperhatikan agar kerang hijau yang dihasilkan memuaskan adalah sebagai berikut.

  1. Pemanenan dilakukan pada saat kerang hijau dalam fase istirahat.
    1. Pengikisan atau perontokan kerang saat dilepaskan dari pancang bambu atau dari tali dengan benda tajam dapat memperkecil luka pada benang byssus-nya sehingga kerang mempunyai daya tahan hidup lebih lama.

 

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Dari hasil makalah di atas maka dapat simpulkan sebagai berikut :

  1. Budidaya kerang hijau dapat dilakukan dengan menggu-nakan 4 macam metoda yaitu: metoda tancap (post method), rakit apung (raft method), rakit tancap/rak (rack method) dan tali rentang (long line method).
  2. Kerang hijau termasuk binatang lunak (Mollusca) yang hidup ditaut, bercangkang dua (bivalve) berwama hijau.
  3. Kerang hijau dapat dipanen setelah berumur 5-6 bulan masa pemeliharaan. Ukuran kerang hijau dapat dikonsumsi adalah 6-8 cm.

     

4.2 Saran

Penyusun selalu menyadari bahwa di dalam makalah ini sudah tentu masih dapat kesalahan dan kekurangan-kekurangan yang tidak disengaja. Oleh karena itu lewat hasil makalah ini kami sebagai penulis selalu mengharapkan saran dan masukan-masukan dari para pembaca, utamanya pada dosen pengasuh mata kuliah ini agar makalah ini dapat lebih berguna dan bermanfaat bagi kita semua.

 

DAFTAR PUSTAKA

Asikin. 1982. Kerang hijau. Penebar swadaya. Jakarta

Dance, S. P. 1977. The enchyclopedia of shells. Banfopd press. London

Kastawi, Yusuf.dkk. 2008. Zoologi Avertebrata. Jica: Malang.

Kastoro, W.W. 1988. Beberapa Aspek Biologi Kerang Hijau (Perna viridis .L.) dari Perairan

Binaria , Ancol, Teluk Jakarta. Jurnal Perikanan Laut. 45 (2):83–102.

Sa’adah, Sumiyati. 2010. Materi Pokok Zoolologi Invertebrata. Bandung: Universitas Islam

Sunan gunung Djati Bandung.

Suwignyo, Sugiarti. Dkk. 2005. Avertebrata Air Jilid 1. Jakarta: Penebar Swadaya.

Syamsuri, Istamar. Dkk. 2006. Biologi Umum Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Wahyuni, I.S., S.I. Hartati, dan Murniyati. 1993. Pengaruh pencemaran terhadap PPertumbuhan kerang hijau (Perna viridis) sebagai satu telaah studi baku mutu lingkungan perairan laut. Bulletin perikanan. Edisi khusus. Vol.4 (139-146).

5 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s