Efektifitas penggunaan model pembelajaran partisipatif

EFEKTIFITAS PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN PARTISIPATIF DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1 KOTA TERNATE PADA MATERI HIMPUNAN


 

 

 

 

 

 

OLEH :

SUKARDI HUSEN

 

 

PROGRAM STUDY MATEMATIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2013

 

 

HAK KEPEMILIKAN HANYA DI PEGANG OLEH SAUDARA

SUKARDI HUSEN

 

Apabila dikemudian hari ditemukan plagiat tanpa mencantumkan seperti yang telah termaktub dalam hukum-hukum dunia akademik maka sanksi dan resiko lainnya di tanggung si pemplagiat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar belakang

.Pada dasarnya tujuan pendidikan membentuk manusia pancasila sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan seperti yang di kehendaki Pembukaan dan Isi Undang-Undang Dasar 1945. Hal ini telah ditetapkan oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yakni pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Salah satu visi dari pada sistem pendidikan nasional adalah terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah.

Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan kualitas manusia melalui pendidikan terus dilakukan oleh lembaga pemerintah dan masyarakat yang peduli pendidikan dalam arti luas, seperti penelitian dan pengembangan, pelatihan pendidikan kualifikasi guru serta pengadaan saran dan prasarana baik formal, informal maupun pendidikan nonformal (Sudibyo, 2008:17).

Konteks penyelenggaraan pembelajaran ini, guru merencanakan kegiatan penyelenggaraanya secara sistematika dan berpedoman pada seperangkat aturan dan rencana tentang pendidikan dikemas dalam bentuk kurikulum. Kurikulum secara berkelanjutan disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan dan berorientasi pada kemajuan sistem pendidikan nasional tampaknya belum dapat direalisasikan secara maksimal. Salah satu masalah yang dihadapi dalam dunia pendidikan di Indonesia adalah lemahnya proses pembelajaran.

Proses pembelajaran matematika pada umumnya tidak didorong untuk bagaimana mengembangkan kemampuan berfikir, akan tetapi proses pembelajaran di kelas lebih diarahkan kepada kemampuan siswa untuk menghafal informasi dengan demikian hasilnya dapat ditebak, mata pelajaran matematika kehilangan daya tariknya, matematika tidak lagi diminati oleh siswa. Konsekuensi logis yang harus diterima adalah semakin minimnya prestasi siswa dibidang studi matematika.

Pelajaran matematika sampai saat ini masih dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit untuk dipelajari.Kesulitan matematika itu dikarenakan objek dari matematika merupakan benda pikiran yang bersifat abstrak. Hal inilah yang harus menjadi perhatian bagi pendidik untuk selalu memperhatikan perkembangan siswanya dalam mempelajari mata pelajaran matematika demi meningkatkan hasil belajar matematika di sekolah. Mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analisis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerja sama. Usaha meningkatkan hasil belajar matematika di sekolah melalui kecerdasan anak, kesiapan anak, bakat, kemauan belajar dan minat anak terhadap matematika harus diperhatikan.

Berdasarkan observasi di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 kota Ternate diketahui bahwa faktor penyebab rendahnya hasil belajar matematika adalah faktor dari siswa sendiri dan faktor dari guru mata pelajaran matematika. Faktor penyebab dari siswa adalah kecenderungan siswa untuk bermain dan tidak memperhatikan pada saat guru menyampaikan materi di kelas, selain itu juga ada sebagian siswa yang tidak menyukai mata pelajaran matematika dengan alasan pelajaran matematika sangat sulit dan sangat membosankan misalnya pada materi himpunan, siswa tidak mampu menyelesaikan soal-soal yang berkaitan dengan himpunan, ini dikarenakan siswa tidak mampu menyerap materi yang diajarkan oleh guru tersebut sehingga siswa merasa sulit dan bosan mempelajarinya sehingga pada akhirnya hasil belajar siswa sangat rendah. Sedangkan faktor penyebab dari guru adalah kurangnya kreatifitas guru dalam memformulasikan strategi pembelajaran yang kaya akan variasi sehingga pembelajaran di kelas lebih monoton dan guru lebih cenderung menggunakan metode ceramah dalam proses pembelajaran di kelas.

Agar dapat mengoptimalkan hal itu, hendaknya strategi mengajar tidak hanya bertumpu pada usaha menyampaikan ilmu pengetahuan semata, tetapi juga usaha untuk menciptakan sistem lingkungan dimana siswa lebih diberikan ruang untuk mengembangkan rasa keingintahuan, menyampaikan gagasan-gagasannya, serta bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya, strategi pembelajaran yang demikian lebih dikenal dengan paradigma pembelajaran konstruktivisme, strategi ini diharapkan mampu untuk menjawab kendala yang dialami pada siswa terhadap mata pelajaran matematika khususnya pada materi himpunan.

Berbeda dengan pendekatan metode pada umumnya, dalam model pembelajaran pastisipatif siswa di ikut sertakan dalam pembelajaran, serta bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya, tugas seorang guru hanya menyediakan atau memberikan kegiatan yang dapat merangsang keingintahuan siswa dan membantu mengekspresikan ide-ide ilmiah mereka sehingga pelajaran matematika yang tadinya membosankan menjadi lebih mengasyikan dan siswa dapat memperoleh pemahaman terhadap pembelajaran yang diajarkan. Pengembangan pembelajaran yang lebih memperhatikan aspek siswa diantaranya adalah pembelajaran partisipatif.

Pembelajaran partisipatif adalah upaya pendidik untuk mengikut sertakan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran yang diwujudkan dalam tiga tahapan kegiatan pembelajaran yaitu perencanaan program (program planning),

pelaksanaan program (program implementation) dan penilaian program (program evaluation) atau kegiatan pembelajaran.

Partisipasi dalam tahap perencanaan adalah keterlibatan peserta didik dalam kegiatan mengidentifikasi kebutuhan belajar, permasalahan dan prioritas masalah, sumber-sumber yang tersedia dan kemungkinan hambatan dalam pembelajaran. Sebuah perencanaan tentu membutuhkan adanya konsep sistem pengajaran yaitu suatu kombinasi terorganisasi yang meliputi unsur-unsur manusiawi seperti guru dan peserta didik dan pihak lainnya, unsur material seperti buku-buku, papan tulis, video dan sebagainya. Unsur fasilitas dan perlengkapan meliputi ruang kelas, komputer, laboratorium dan sebagainya. Unsur prosedur meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi penyediaan untuk praktek dan belajar.

Partisipasi pada tahap pelaksanaan program adalah keterlibatan peserta didik dalam menciptakan iklim yang kondusif untuk belajar yaitu meliputi pembinaan hubungan antar pendidik dan peserta didik, kedisiplinan peserta didik. Adanya interaksi dalam pembelajaran dan adanya tekanan pembelajaran pada peranan peserta didik yang aktif melakukan kegiatan pembelajaran, kemudian partisipasi pada tahap evaluasi program adalah digunakan untuk penilaian pelaksanaan pembelajaran dan penilaian pengelolaan program pembelajaran.

Pengaruh partisipasi ini diharapkan akan dirasakan peserta didik terutama setelah mereka mengikuti program kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, partisipasi yang perlu dijadikan strategi adalah untuk terjadinya keikut sertaan peserta didik secara aktif dalam tahapan-tahapan kegiatan pembelajaran tersebut.

Pembelajaran partisipatif merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam menerapkan konsep matematika misalnya pada materi himpunan setelah pembelajaran diberikan.

    Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul :“Efektifitas Penggunaan Model Pembelajaran Partisipatif Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Kota Ternate Pada Materi Himpunan“.

 

 

  1. Rumusan Masalah

Memperhatikan latar belakang di atas, maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah :

  1. Bagaimanakah hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 1 Kota Ternate dengan menggunakan model pembelajaran partisipatif pada materi himpunan ?
  2. Bagaimanakah hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 1 kota Ternate dengan menggunakan model pembelajaran partisipatif pada materi himpunan ?

     

  3. Tujuan Penelitian

    Berdasarkan rumusan masalah di atas maka penelitian ini bertujuan untuk dapat:

  1. Mengetahui efektifitas penggunaan model pembelajaran partisipatif dalam meningkatkan hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 1 Kota Ternate pada materi himpunan.
  2. Mengetahui hasil belajar siswa kelas VII SMP Negeri 1 Kota Ternate dengan menggunakan model pembelajaran partisipatif pada materi himpunan.

     

    1. Manfaat penelitian

    Manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut :

  3. Untuk menambah pengetahuan kepada peneliti dalam mengembangkan model pembelajaran.
  4. Membantu siswa dalam meningkatkan hasil belajar dengan menggunakan model pembelajaran pada materi himpunan.
  5. Untuk memberi pengetahuan kepada calon guru maupun guru dalam meningkatkan hasil belajar siswa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

  1. Hakekat Belajar Matematika

            Belajar merupakan proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan. Artinya, tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku, baik yang menyangkut pengetahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi. Kegiatan belajar mengajar seperti mengorganisasi pengalaman belajar, mengolah kegiatan belajar mengajar, menilai proses dan hasil belajar, kesemuanya termasuk dalam cakupan tanggung jawab guru. Jadi, hakekat belajar adalah perubahan (Djamarah dan Zain, 1997:11).

            Belajar merupakan tindakan dan prilaku siswa yang kompleks, sebagai tindakan belajar hanya dialami oleh siswa sendiri. Dimyati dan Mudjiono (Sagala, 2003:13) mengemukakan siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar. Berhasil atau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan sangat tergantung pada proses belajar dan mengajar yang dialami siswa dan pendidik baik ketika para siswa itu di sekolah maupun di lingkungan keluarganya sendiri.

            Menurut Skiner (Sagala, 2003:14), belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progressif. Belajar juga dipahami sebagai suatu perilaku, pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya bila seseorang tidak belajar, maka responnya menurun. Jadi belajar adalah suatu perubahan dalam kemungkinan atau peluang terjadinya respon. Garret (Sagala, 2003:15), menyatakan bahwa belajar merupakan proses yang berlangsung dalam jangka waktu lama melalui latihan maupun pengalaman yang membawa kepada perubahan diri dan perubahan cara mereaksi terhadap suatu perangsang tertentu. Menurut Dimyati dan Mudjiono (2009:156) bahwa belajar merupakan proses melibatkan manusia secara orang per orang sebagai satu kesatuan organisme sehingga terjadi perubahan pada pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

            Salah satu faktor yang mendukung kondisi belajar di dalam suatu kelas adalah “job description” proses belajar mengajar yang berisi serangkaian pengertian peristiwa belajar yang dilakukan oleh kelompok-kelompok siswa. Berbagai upaya telah diusahakan untuk menganalisis proses pengelolaan belajar mengajar ke dalam unsur-unsur komponen. Komponen-komponen tersebut meliputi :

  2. Merencanakan, yaitu mempelajari masa mendatang dan menyusun rencana    kerja.
    1. Mengorganisasi, yakni membuat organisasi, usaha, manajer, tenaga kerja dan bahan.
    2. Pengkoordinasikan, yaitu menyatukan dan mengkorelasikan semua kegiatan.
    3. Mengawasi, memeriksa agar segala sesuatudikerjakan sesuai dengan peraturan yang digariskan dan instruksi-instruksi yang diberikan.    

            Bertitik tolak dari berbagai pandangan para ahli tersebut mengenai belajar, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan perilaku atau pribadi seseorang berdasarkan praktek atau pengalaman tertentu. Jadi pengalaman belajar yang diperoleh seseorang akan membekas dan meresap dalam jiwa sehingga akibat apa yang diperolehnya itu dapat bermanfaat bagi dirinya dan tingkah lakunya akan mengalami perubahan (Sagala, 2003:37).

        Matematika merupakan pengetahuan penting sebagai pembentukan intelektual dan daya nalar dalam proses pembelajaran diharapkan dapat meningkatkan prestasi belajar yang optimal. Oleh karena itu, guru dan peserta didik harus mampu mengembangkan potensi keilmuannya dengan meningkatkan kemampuan intelektualnya. Pengembangan potensi keilmuan dalam menunjang terjadinya komunikasi timbal balik antara guru dengan siswa pada proses belajar mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru tidak hanya sebagai fasilitator untuk menyampaikan ilmu pengetahuan tetapi, guru juga bertanggung jawab atas seluruh perkembangan intelektual anak.

        Matematika menurut Ruseffendi (Heruman, 2007:1) adalah bahasa simbol, ilmu deduktif yang tidak menerima pembuktian secara induktif, ilmu tetang pola keteraturan, dan struktur yang terorganisasi, mulai dari unsur yang tidak didefenisikan, ke aksioma atau postulat, dan akhirnya ke dalil. Sedangkan hakikat matematika menurut Soedjadi (Heruman, 2007:1), yaitu memiliki objek tujuan abstrak, bertumpu pada kesepakatan, dan pola pikir yang deduktif.

    Pada pembelajaran matematika, diharapkan terjadi reinvention (penemuan kembali). Penemuan kembali adalah menemukan suatu cara penyelesaian secara informal dalam pembelajaran di kelas. Menurut Bruner (Heruman 2007:4) dalam metode penemuannya mengungkapkan bahwa dalam pembelajaran matematika, siswa harus menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang diperlukan. Menemukan di sini terutama adalah menemukan lagi (discovery), atau dapat juga menemukan yang sama sekali baru (invention). Oleh karena itu, kepada siswa materi disajikan bukan dalam bentuk akhir dan tidak diberitahukan cara penyelesaiannya. Dalam pembelajaran guru harus lebih banyak berperan sebagai pembimbing dibandingkan sebagai pemberi tahu.

        Pada pembelajaran matematika harus terdapat keterkaitan antara pengalaman belajar siswa sebelumnnya dengan konsep yang diajarkan. Dalam matematika, setiap konsep berkaitan dengan konsep lain, dan suatu konsep menjadi prasyarat bagi konsep yang lain. Oleh karena itu, siswa harus lebih banyak diberi kesempatan untuk melakukan keterkaitan tersebut. Menurut Heruman (2007:2) dalam matematika, setiap konsep yang abstrak yang baru dipahami siswa perlu segera diberi penguatan, mengendap dan bertahan lama dalam memori siswa, sehingga akan melekat dalam pola pikir dan pola tindakannya. Untuk keperluan inilah, maka diperlukan adanya pembelajaran melalui perbuatan dan pengertian, tidak hanya sekedar hafalan atau mengingat fakta saja, karena hal ini akan mudah dilupakan siswa. Pepatah Cina mengatakan, “Saya mendengar maka saya lupa, saya melihat maka saya tahu, saya berbuat maka saya mengerti”.

    1. Pengertian Hasil Belajar

    Menurut Sudjana (Kunandar, 2008:276) bahwa hasil belajar adalah suatu akibat dari proses belajar dengan menggunakan alat pengukuran, yaitu berupa tes yang disusun secara terencana, baik tes tertulis, tes lisan maupun tes perbuatan. Sedangkan Nasution (Kunandar, 2008:276) berpendapat bahwa hasil belajar adalah suatu perubahan pada individu yang belajar, tidak hanya mengenai pengetahuan, tetapi juga membentuk kecakapan dan penghayatan dalam diri pribadi individu yang belajar.

    Berdasarkan pengertian di atas dapat diuraikan tujuan utamanya adalah untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang dicapai siswa setelah mengikuti sesuatu kegiatan pembelajaran, dimana tingkat keberhasilan tersebut kemudian ditandai dengan skala nilai berupa huruf, kata, atau simbol. Hasil belajar dan proses hasil belajar kedua – duanya sangat penting karena terjadi proses berfikir. Seseorang dikatakan berfikir bila orang itu tersebut melakukan kegiatan mental bukan kegiatan motorik yang walaupun kegiatan motorik ini dapat pula bersama – sama dengan kegiatan tersebut ( Dimyati dan Mudjiono, 2009:200).

    Hasil belajar adalah merupakan kemampuan yang diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri adalah suatu proses dalam diri seseorang yang berusaha memperoleh sesuatu dalam bentuk perubahan tingkah laku yang relatif menetap. Perubahan tingkah laku dalam belajar sudah ditentukan terlebih dahulu, sedangkan hasil belajar ditentukan berdasarkan kemampuan siswa.

    Gagne (Nashar 2004:79) mengklasifikasikan hasil belajar menjadi lima, yaitu keterampilan intelektual, strategi kognitif, informasi ferbal, keterampilan psikomotorik, dan sikap. Dari lima klasifikasi ini tiga diantaranya termasuk ranah kognitif, yaitu keterampilan intelektual, informasi ferbal, dan strategi kognitif.

    Hasil belajar sangat berguna baik bagi siswa maupun bagi guru pengelola pendidikan. Hasil belajar dapat disumbangkan untuk meningkatkan siswa dengan cara :

    1. Menjelaskan hasil belajar yang dimaksud.
    2. Melengkapi tujuan pendek untuk waktu yang akan datang.
    3. Memberikan umpan balik terhadap kemajuan belajar.
    4. Memberikan informasi tentang kesulitan belajar, Sehingga dapat dipergunakan untuk memilih pengalaman belajar yang akan datang.

    Penggolongan hasil belajar menurut Gagne (Nashar, 2004:81) berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan yang diperlukan untuk dapat melaksanakan kegiatan belajar dengan baik, kondisi internal dan eksternal, dan Bloom (Nashar, 2004:81) mengkategorikan hasil belajar tersebut diperlukan dalam rangka perumusan tujuan pembelajaran. Sedangkan Kingsley (Nashar, 2004:81) menetapkan macam-macam hasil belajar untuk kebutuhan dalam menetapkan bahan ajar dan kurikulum suatu sekolah maupun penyusunan satuan pelajaran atau persiapan mengajar untuk kegiatan pembelajaran di kelas. Dari teori dan pengertian diatas dapat dismpulkan bahwa hasil belajar itu adalah merupakan hasil dari perubahan tingkah laku yang diperoleh oleh individu sebagai tujuan dari perbuatan belajar yang dilakukannya. Hasil belajar itu meliputi semua aspek prilaku (aspek kognitif, efektif dan psikomotor).

     

    1. Model Pembelajaran

    Menurut Sudjana dan Suwariya (Fathurrohman dan Sutikno, 2010:15), model pembelajaran diartikan sebagai suatu rencana mengajar yang memperlihatkan pola tertentu, yang dalam pola tersebut dapat terlihat kegiatan guru dan siswa, sumber belajar yang digunakan dalam mewujudkan kondisi belajar yang menyebabkan terjadinya belajar pada siswa. Di dalam pola pembelajaran yang dimaksud dalam model pembelajaran terdapat karakteristik berupa tahapan kegiatan guru dan siswa yang dikenal dengan sintaks yang dapat membedakan antara satu model pembelajaran dengan model pembelajaran yang lain.

    Memilih model pembelajaran guru terikat oleh faktor-faktor luar. Guru tidak dibenarkan memilih metode pembelajaran yang akan digunakan tersebut berdasarkan hanya karena guru menguasainya, tapi harus memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

    1. Tujuan yang hendak dicapai

      Tujuan adalah sasaran yang dituju dari setiap kegiatan belajar mengajar. Setiap guru hendaknya memperhatikan tujuan pembelajaran. Karakteristik tujuan yang akan dicapai sangat mempengaruhi penentuan metode atau model pembelajaran, sebab model pembelajaran tunduk pada tujuan, bukan sebaliknya.

    2. Materi pelajaran

      Materi pelajaran ialah sejumlah materi yang hendak disampaikan oleh guru untuk bisa dipelajari dan dikuasai oleh peserta didik.

    3. Peserta didik

      Peserta didik sebagai subjek belajar memiliki karakteristik yang berbeda–beda, baik minat, bakat, kebiasaan, motivasi, situasi sosial, lingkungan keluarga dan harapan terhadap masa depannya.

      Perbedaan peserta didik dari aspek psikologi seperti sifat pendiam, super aktif, tertutup, terbuka, periang, pemurung bahkan ada yang menunjukan prilaku – prilaku yang sulit untuk dikenal. Semua perbedaan tadi akan berpengaruh terhadap penentuan model pembelajaran.

    4. Situasi

      Situasi kegiatan belajar merupakan setting lingkungan pembelajaran yang dinamis. Guru harus teliti dalam melihat situasi. Oleh karena itu, pada waktu tertentu guru melakukan proses pembelajaran di luar kelas atau di alam terbuka,

    5. Fasilitas

      Fasilitas dapat mempengaruhi pemilihan dan penentuanmodel pembelajaran. Oleh karena itu, ketiadaan fasilitas akan sangat mengganggu pemilihan model pembelajaran yang tepat, seperti tidak adanya laboratorium untuk praktek, jelas kurang mendukung penggunaan metode eksperimen atau demonstrasi. Jadi, fasilitas ini sangatlah penting guna berjalannya proses pembelajaran yang efektif.

    6. Guru

      Setiap orang memiliki kepribadian,performance style,kebiasaan dan pengalaman mengajar yang berbeda-beda. Kompetensi mengajar biasanya dipengaruhi pula oleh latar belakang pendidikan. Guru yang berlatar belakang pendidikan keguruan biasanya lebih terampil dalam memilih model pembelajaran dan tepat dalam menerapkannya, sedangkan guru yang latar belakang pendidikannya kurang relevan, sekalipun tepat dalam menentukan model pembelajaran, namun sering mengalami hambatan dalam penerapannya.Jadi, untuk menjadi seorang guru pada intinya harus memiliki jiwa yang professional. Dengan memiliki jiwa keprofesionalan dalam menyampaikan pelajaran atau dalam proses pembelajaran itu akan berhasil sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. (Pupuh Fathurrohman dan Sobry Sutikno, 2010 :16).

       

      1. Model Pembelajaran Partisipatif

    Pembelajaran partisipatif pada intinya dapat diartikan sebagai upaya pendidik untuk mengikut sertakan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran yaitu dalam tahap perencanaan program, pelaksanaan program dan penilaian program.
    1. Tahap perencanaan.

    Partisipasi pada tahap perencanaan adalah keterlibatan peserta didik dalam kegiatan mengidentifikasi kebutuhan belajar, permasalahan, sumber-sumber atau potensi yang tersedia dan kemungkinan hambatan dalam pembelajaran.
    2. Tahap pelaksanaan.

    Partisipasi dalam tahap pelaksanaan program kegiatan pembelajaran adalah keterlibatan peserta didik dalam menciptakan iklim yang kondusif untuk belajar. Dimana salah satu iklim yang kondusif untuk kegiatan belajar adalah pembinaan hubungan antara peserta didik, dan antara peserta didik dengan pendidik sehingga tercipta hubungan kemanusiaan yang terbuka, akrab, terarah, saling menghargai, saling membantu dan saling belajar.

     

    3. Tahap penilaian.

    Partisipasi dalam tahap penilaian program pembelajaran adalah keterlibatan peserta didik dalam penilaian pelaksanaan pembelajaran maupun untuk penilaian program pembelajaran. Penilaian pelaksanaan pembelajaran mencakup penilaian terhadap proses, hasil dan dampak pembelajaran.

    Berdasarkan pada pengertian pembelajaran partisipatif yaitu upaya untuk
    mengikut sertakan peserta didik dalam pembelajaran, maka ciri-ciri dalam kegiatan pembelajaran partisipatif adalah

    1.    Pendidik menempatkan diri pada kedudukan tidak serba mengetahui terhadap
    semua bahan ajar.

    2.    Pendidik memainkan peran untuk membantu peserta didik dalam melakukan kegiatan pembelajaran.

    3.    Pendidik melakukan motivasi terhadap peserta didik untuk berpartisipasi dalam pembelajaran.

    4.    Pendidik menempatkan dirinya sebagai peserta didik.

    5.    Pendidik bersama peserta didik saling belajar.

    6.    Pendidik membantu peserta didik untuk menciptakan situasi belajar yang kondusif.

    7.    Pendidik mengembangkan kegiatan pembelajaran kelompok.

    8.    Pendidik mendorong peserta didik untuk meningkatkan semangat berprestasi.

    9.    Pendidik mendorong peserta didik untuk berupaya memecahkan permasalahan yang dihadapi dalam kehidupannya.

    10.    Pembelajaran mencapai otonomi dan integrasi dalam kegiatan individual dan kehidupan sosialnya.

    Adapun langkah-langkah pembelajaran partisipatif adalah sebagai berikut:

    1. Membuka kegiatan pembelajaran
      1. Menyampaikan tujuan pembelajaran
      2. Menyampaikan materi pembelajaran
      3. Memberikan contoh dan menyelesaikan soal
      4. Memberikan kesempatan siswa untuk bertanya
      5. Memberikan kesempatan siswa untuk membuat soal dari kondisi yang diberikan
      6. Mempertukarkan soal yang telah dibuat untuk didiskusikan
      7. Memberikan kondisi lain dan memberikan kesempatam kepada siswa untuk membuat soal sebanyak – banyaknya
      8. Mempersilahkan kepada siswa untuk bertukar soal dengan siswa lain dan mendiskusikannya
      9. Mengarahkan siswa untuk menarik kesimpulan
      10. Membuat rangkuman berdasarkan hasil kesimpulan
      11. Menutup pembelajaran.

         

      12. Materi Tentang Himpunan
        1. Memahami Pengertian dan Notasi Himpunan
        2. Pengertian Himpunan

        Kata kelompok, persatuan, ikatan, dan kumpulan mempunyai arti yang sama. Kita menggunakan kata himpunan untuk menggantikan kata kumpulan. Apakah setiap kumpulan benda dapat dikatakan himpunan ? suatu kumpulan benda dapat dikatakan himpunan jika benda atau objek yang termasuk dalam kumpulan itu diteragkan dengan jelas.

    1. Kumpulan nama hari merupakan himpunan, sebab anggota-anggotanya dapat kita sebutkan dengan jelas, yaitu senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu dan minggu.
    2. Kumpulan bilangan asli merupakan himpunan, sebab anggota-anggotanya dapat kita sebutkan dengan jelas, yaitu 1, 2, 3, 4, 5, 6, …….
    3. Menyatakan suatu himpunan

    Lambang yang dinyatakan himpunan adalah tanda kurung kurawal buka dan kurung kurawal tutup, ditulis {}. Ada tiga cara untuk menyatakan himpunan, yaitu degan kata-kata, notasi bentuk himpunan, dan mendaftar anggotanya. Himpunan deberi nama dengan huruf kapital A, B, C, D dan seterusnya.

    1. Menyatakan himpunan dengan kata-kata

    Suatu himpunan dinyatakan dalam bentuk kalimat atau menyebutkan syarat keanggotanya tanpa menggunakan lambang maka himpunan tersebut dinyatakan dengan kata-kata.

    Berikut ini adalah cara menyatakan himpunan dengan kata-kata.

    1. Himpunan A adalah himpunan nama-nama bulan yang dimulai dengan huruf     M.
    2. Himpunan B adalah himpunan empat bilangan asli yang pertama
    3. Himpunan P adalah himpunan bilangan cacah.
    1. Menyatakan himpunan dengan notasi pembentuk himpunan.

    Berikut ini adalah cara mengatakan himpunan dengan notasi pembentuk himpunan.

    1. Himpunan L adalah himpunan-himpunan bilangan bulat antara 1 dan 7. Ditulis menjadi : L={xI-1< x < 7, x bilangan bulat}
    2. Himpunan M adalah himpunan bilangan prima kurang dari 23. Ditulis menjadi : M = {y I y < 23, y bilangan prima.
    3. Himpunan N adalah himpunana bilangan asli dari 1 sampai dengan 10. Bagaimana cara menyatakan notasi himpunan ? bagaimana cara membacanya ?
    1. Menyatakan himpunan dengan mendatar.

    Kalian tentu masih ingat bilangan asli, yaitu bilangan-bilangan 1, 2, 3, 4, ….. apakah arti dari titik tiga setelah bilangan 4 ?

        Kalau bilangan kita pandang sebagai satu kumpulan dan ditulis diantara dua kurung kurawal serta setiap bilangan ditulis lambangnya satu kali, maka mkumpulan itu disebut himpunan bilagan {1, 2, 3, 4, …} penulisan seperti ini adalah penulisan dengan cara mendatar.

        Cara menyatakan himpunan dengan mendatar dan barang-barang rumah tangga yaitu dengan menulis semua anggota diantara kurung kurawal buka dan kurung kurawal tutup, kemudian setiap anggota dipisahkan dengan tanda koma.

        Berikut ini adalah contoh-contoh yang menunjukan hubungan antara cara penulisan dengan kata-kata dan mendatar.

     

    Dengan kata-kata

    Dengan mendatar

    P adalah himpunana bilanagn prima kurang dari 11

    P = {2, 3, 5, 7}

    Q adalah himpunan bilangan cacah yang pertama

    Q = {0, 1, 2, 3}

    R adalah himpunan 5 huruf abjad yang pertama

    R = {a, b, c, d, e}

    S adalah himpunan warna lampu lalu lintas

    S = {merah, kuning, hijau}

    T adalah himpunan huruf pembentuk kata “matematika”

    T = {m, a, t, e, i, k}

     

    3. Anggota dan bukan anggota himpunan

        Anggota suatu himpunan adalah setiap benda (objek) yang termasuk didalam himpunan tersebut. Untuk menyatakan bahwa suatu benda (objek) adalah anggota himpunan, digunaka lambang Є dan bukan anggota himpunan digunakan lambang

    P adalah himpunan lima bilangan prima yang pertama.

    Banyak anggota-anggota himpunan p yaitu 2, 3, 5, 7, dan 7.

    Banyak anggota himpunan p ada 5.

    Jadi, 3 adalah anggota himpunan p dan 13 bukan anggota himpunan p.

    1. Himpunan berhingga dan tak berhingga.

        Perhatikan himpunan-himpunan berikut:

    1. H = {a, m, s, t}            (iii) D = {10, 1, 2, 3}
    2. C = {0, 1, 2, 3, 4, 5, 6}        (iv) B = {… , -2, -1, 0, 1, 2, …}

    Berapa banyak anggota himpunan H ? Sebutkan!

    Berapa banyak anggota himpunan C ? sebutkan!

    Anggota himpunan H dan C dapat disebut seluruhnya hingga berakhir. Himpunan semacam itu disebut himpunan berhingga. Banyak anggota himpunan H ditulis dangan lambang n (H) sedangkan anggota himpunan D dan B tidak berakhir. Himpunan ini disebut himpunan tak berhingga.

    1. Memahami Konsep Himpunan Bagian
    2. Himpunan kosong

          Himpunan kosong adalah himpunan yang tidak mempunyai anggota, dan dinotasikan dengan { } atau ɸ.

          Di bagian depan kalian telah mempelajari mengenai banyaknya anggota suatu himpunan dan notasinya. Apakah setiap himpunan pasti mempunyai anggota?

      Jika P adalah himpunan persegi yang mempunyai tiga buah sisi maka anggota P tidak ada atau kosong. Himpunan P disebut himpunan kosong (tidak mempunyai anggota), karena jumlah sisi persegi adalah empat.

      Jika R = {x | x < 1, x C} maka R = {0} atau n(R) = 1. Himpunan R disebut himpunan nol. Anggota himpunan R adalah 0. Jadi, himpunan R bukan merupakan himpunan kosong

    3. Himpunan Bagian
      1. Menentukan himpunan Bagian

      Diketahui A = {1, 2, 3, 4, 5} dan K = {1, 5}. Setiap anggota himpunan K merupakan anggota himpunan A. Tetapi ada beberapa anggota himpunan A yang tidak menjadi anggota hipunan K. Sebutkan!

      Himpunan K termasuk dalam himpunan A. Dikatakan bahwa himpunan K merupakan himpunan bagian dari himpunan A, ditulisdengan notasi K A.

  • Himpunan K adalah himpunan bagian dari A, jika setiap anggota himpunan K     merupkan anggota himpunan A.
  • Himpunan K adalah himpunan bagian dari kumpulan K itu sendiri.
  • Himpunan kosong adalah himpunan bagian dari setiap himpunan
  1. Menentukan banyak himpunan bagian

    Sediakan 4 kartu masing-masing bertuliskan a, b, c, dan d. lakukan percobaan mengelompokan kartu-kartu tersebut. Salin dan lengkapilah tabel berikut:

Himpunan

Banyak anggota

Himpunan bagian

Banyak himpunan bagian

{a}

1

{}, {a}

2 = 21

{a, b}

2

{}, {a}, {b}, {a, b}

4 = 22

{a, b, c}

3

{}, {a}, {b}, {c}, {a, b}, {b, c}, {a, c}, {a, b, c}

8 = 23

{a, b, c, d}

4

 

16 = 24

       

 

 

 

        Perhatikan kolom ke 2 kolom ke 4 pada tabel diatas.

Banyak anggota

Banyak himpunan bagian

1

21

2

22

3

23

4

24

N

2n

 

Jadi, banyak himpunan bagian adalah 2n, dengan n menyatakan banyak anggota himpunan. Angota, maka banyak himpunan bagiannya adalah

Jika suatu himpunan terdiri atas 2n.

Suatu himpunan mempunyai himpunan bagian sebanyak 256. Berapa banyak anggota himpunan itu?

Penyelesayan:

2n = 256 ↔ 2n = 2 ↔ = 8

Jadi, banyak anggota himpunan tersebut adalah 8.

  1. Himpunan semesta

Himpunan semesta adalah himpunan yang memuat semua anggota yang sedang dibicarakan, himpunan semesta disebut juga dengan himpunan universal.

A = {Kelud, Merapi}

Kemungkinan himpunan semestanya adalah:

S = {Kelud, Merapi}

S adalah himpunan gunung-gunung berapi dijawa

S adalah himpunan gunung-gunung dipulau Jawa yag tingginya lebih dari 500 meter.

Himpunan semesta adalah himpunan yang memuat semua anggota yang dibicarakan, dan diberi lambang S.

  1. Operasi himpunan

        Pada bilangan ini akan dipelajari operasi irisan, gabungan kurang, dan komplemen.

    1. Irisan
      1. Pengertian irisan

        Untuk memahami irisan himpunan, marilah kita perhatikan contoh barikut ini.

        A = {1, 2, 3} dan B = {2, 3, 4}

        Pada himpunan A dan B,himpunan A yang juga merupakan anggota B, yaitu 2 dan 3. Dikatakan irisan himpunan A dan B = {2, 3}. Untuk selanjutnya kata irisan diganti dengan menggunakan simbol ∩.

        Irisan dari himpunan A dan B, terdapat anggota himpunan A yang menjadi nggota B. Ditulis dengan notasi pembentuk himpunan A ∩ B = {x I x Є A dan x Є B}.

      2. Menentukan irisan

        Menentukan irisan dengan dua himpunan sama artinya dengan mencari anggota persekutuan dari dua himpunan tersebut.

        Ditentukan E = {y I y ≤ 11, y bilangan prima}

        F = {z I 2 < z < 8, z bilangan ganjil}

        1. Nyatakan himpunan E dan F dengan mendaftar aggota-anggotanya!
        2. Tentukan E ∩ F.

          Penyelesaian:

        3. E = {2, 3, 5, 7, 11} dan F = {3, 5, 7}
        4. E ∩ F = {3, 5, 7}
    2. Gabungan
      1. Pengertian gabungan

        Untuk memahami gabungan himpunan, marilah kita memperhatikan contoh berikut ini!

        A = {1, 2, 3} dan B = {3, 4, 5}

        Himpunan yang anggotanya terdapat pada A dan B, yaitu {1, 2, 3, 4, 5} disebut gabungan dari himpunan A dan B. Utuk selanjutnya kata gabungan diganti dengan menggunaka simbol

      2. Menentukan gabungan

        Menentukan gabungan dua anggota pada hakikatnya adalah menuliskn semua anggota kedua himpunan. Jika terdapat anggota yang sama, maka ditulis salah satu.

        Diketahui:

        M = {x I x < 10, x bilangan prima}

        N = {y I 4 < y ≤ 10, y bilangan asli}

    3. Komplemen himpunan
    4. Pengertian komplemen

      Jika S adalah himpunan semesta dan A S, maka himpunan anggota S yang bukan anggota A disebut komplemen A, ditulis A’.

      Misalnya S = {1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8} dan A ={1, 3, 5, 7}, artinya A’ = {2, 4, 6,8}.

      Komplemen himpunan A dalam semesta pembicaraan S adalah anggota S yang bukan anggota A.

      Notasi pembentuk himpunan adalah A’ = [x I x Є S x A}.

    5. Menentukan komplemen

      Menentukan komplemen himpunan A pada hakikatnya menentukan semua anggota himpunan semesta S yang tidak dimiliki himpunan A.

      Diketahui: S = {1, 2, 3, …, 10} A = {1, 4, 6, 8}; dan B = [5, 6, 9, 10} tentukan A’ dan  B’.

      Penyelesaian:

      A’ = [2, 3, 5, 7, 9, 10} dan B’ = {1, 2, 3, 4, 7, 8}

  2. Hipotesis Penelitian

    H0: Tidak terdapat perbedaan hasil belajar siswa pada materi himpunan setelah diterapkan model pembelajaran partisipatif pada kelas eksperimen dan tanpa model pembelajaran partisipatif pada kelas kontrol

    Ha: Terdapat perbedaan hasil belajar siswa pada materi setelah diterapkan model pembelajaran partisipatif pada kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol yang tidak menggunakan model pembelajaran partisipatif.


    Kriteria pengujian: Jika thitung > ttabel maka Ha diterima dan Ho ditolak.

BAB III

METODE PENELITIAN

 

  1. Jenis Penelitian

Tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen (Eksperiment Research). Penelitian eksperimen adalah penelitian yang melihat dan meneliti adanya akibat setelah subyek dikenai perlakuan pada variabel bebasnya, hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Arikunto (2006:3) bahwa eksperimen selalu dilakukan dengan maksud untuk melihat akibat suatu perlakuan.

 

  1. Lokasi dan Waktu penelitian

Lokasi pada penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Kota Ternate, Ternate Selatan, Provinsi Maluku Utara.

 

  1. Populasi dan Sampel
    1. Populasi

      Populasi adalah seluruh data yang menjadi perhatian dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang ditentukan (Margono, 2007:118). Menurut Arikunto (2002:108) Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Maka populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP 1 Kota Ternate yang berjumlah 35 siswa.

       

    2. Sampel

      Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2002:109). Demikian juga dengan Margono (2007:121) mengemukakan pengertian sampel sebagai bagian dari populasi. Jadi, sampel yang diambil dalam penelitian ini yaitu siswa kelas VII– k yang berjumlah 35 siswa sebagai kelas eksperimen dan VII-L yang berjumlah 32 orang sebagai kelas kontrol.

 

  1. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis sehingga lebih mudah diolah. Instrumen yang baik harus memiliki dua persyaratan penting yaitu valid dan reliabel (Arikunto, 2002:144)

Selain itu, Instrumen juga sebagai alat pengumpul data harus harus betul-betul dirancang dan dibuat sedemikian rupa sehingga menghasilkan data empiris sebagaimana adanya. Data yang salah atau tidak menggambarkan data empiris biasa menyesatkan peneliti, sehingga kesimpulan penelitian yang dibuat peneliti biasa keliru. Jenis instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes awal dan tes akhir untuk mengetahui kemampuan siswa (Margono, 2007:187).

 

 

  1. Variabel Penelitian

        Menurut Y.W Best (Narbucko, 2005:118) variabel penelitian adalah kondisi-kondisi yang oleh peneliti dimanipulasikan, dikontrol atau diobservasi dalam suatu penelitian. Ada juga yang merumuskan variabel sebagai segala sesuatu yang akan menjadi objek pengalaman penelitian. Dari kedua pengertian tersebut dapat dijelaskan bahwa variabel penelitian meliputi faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau gejala yang akan diteliti. Variabel dari penelitian ini adalah hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran partisipatif, dilambangkan dengan (X), dan Hasil belajar siswa tanpa menggunakan model pembelajaran partisipatif,
    dilambangkan dengan (X).

        Indikatornya, siswa dapat memahami konsep himpunan.

     

  2. Prosedur Penelitian

    Prosedur dalam penelitian ini adalah:

    1. Melakukan pre-test untuk mengetahui kemampuan awal sebelum pembelajaran dengan model pembelajaran partisipatif.
    2. Menganalisi hasil pre-test untuk merancang proses pembelajaran
    3. Menyiapkan perangkat pembelajaran dan bahan yang diperlukan dalam pembelajaran dengan pendekatan partisipatif.
    4. Pelaksanaan pembelajaran yaitu proses belajar mengajar yang menggunakan pendekatan partisipatif.
    5. Melakukan pro-test untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah pembelajaran dengan model pembelajaran partisipatif.
    6. Menganalisis data yang dikumpulkan dan membuat kesimpulan.

       

  3. Teknik Penelitian
  • Teknik
    Pengumpulan Data

    Data dan informasi dalam penelitian ini diperoleh dengan cara:

    • Melakukan tes awal: Untuk mengetahui kemampuan siswa sebelum diterapkan model pembelajaran partisipatif.
    • Melakukan Tes Akhir: Untuk mengetahui kemampuan siswa (secara individual) sesudah diterapkan model pembelajaran partisipatif.
  • Teknik Analisa Data
  1. Menghitung presentasi dari skor yang dicapai setiap siswa dalam menyelesaikan soal digunakan pedoman acuan patokan (PAP) yaitu :



Dengan mengklasifikasikan tingkat kemampuan siswa sebagai berikut:

Tabel 1. Pedoman Acuan Patokan Skala 5

No

Tingkat Penguasaan

Kualifikasi

1

2

3

4

5

90%-100%

80%-89%

65%-79%

55%-64%

0%-54%

Baik Sekali

Baik

Cukup

Kurang Sekali

Gagal

                                (Sudijono, 2009:312,318)

  1. Menguji hipotesis penelitian, digunakan uji-t. Sebelum malakukan pengujian, terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yaitu uji homogenitas dan normalitas terhadap data yang dilakukan dengan langkah –langkahnya sebagai berikut :
    1. Uji homogenitas

      Fhuting =

      1. Taraf Signifikasi (
      2. Harga dibandingkan dengan (derajat bebas) pembilang (1) dan dk penyebut (1).
        1. Kriteria Pengujian: jika Fhit Ftab tidak homogen

Fhit
Ftab homogen

  1. Guna menentukan penggunaan uji statistik parametrik atau non parametrik, data yang diperoleh dilakukan uji normalitas data.

    Langkah-langkah uji normalitas data adalah sebagai berikut:

    1. Menentukan skor terbesar dan skor terkecil
    2. Menentukan Rentang (R)
    3. Menentukan Banyak Kelas (BK)
    4. Menentukan panjang kelas (i)
    5. Membuat table distribusi frekwensi
    6. Menghitung nilai rata-rata ()
    7. Menghitung simpangan baku (S)
    8. Mencari bilangan baku dengan rumus :

      =

    9. Frekuensi yang diharapkan (hi) diisikan dengan rumus :

      Luas kelas interval .

    10. Frekuensi yang diamati (0i) diisikan nilai f dari tabel distribusi frekwensi langkah (e)
    11. Membuat tabel chi-kuadrat
    12. Masukkan nilai yang terdapat pada tabel chi-kuadrat kedalam rumus :

      . X 2 =

    13. Taraf signifikansi (
    14. Kriteria pengujian yaitu : Jika X 2hitung X 2tabel, maka data berdistribusi normal. Dalam harga yang lain data tidak berdistribusi normal
    15. Mencari X 2tabel dengan ) dan banyak kelas
    16. Membandingkan X 2hitung dan X 2tabel
    17. Membuat kesimpulan

      (Riduwan, 2009:186)

       

        Menguji perbedaan dua sampel jika data berdistribusi normal digunakan statistik uji t–test yakni sebagai berikut :

 

 

 

H0 : µ1 = µ2

H1 : µ1 > µ2

=

SI2 = dan

  1. Tarif signifikasi (α = 0,025)
  1. kriteria pengujian : Terima H0
    jika thitung ≤ tTabel, dalam harga lain H0 ditolak
    1. Membuat kesimpulan

Sugiyono (2009:237)

        
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian. Rineka Cipta : Jakarta.

Arikunto, S. 2007. Dasar – Dasar Evaluasi Pendidikan. Bumi Aksara : Jakarta.

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta.

Buchori, 2006.
Matematika 1 unutk SMP kelas VII, Aneka Ilmu: Jakarta.

Dimyati, dan Mujiono, 2006. Belajar dan pembelajaran. Aneka Cipta; Jakarta.

Hudojo, H. 1979. Pengembangan Kurikulum Matematika dan Penerapannya di Depan Kelas. Surabaya: Usaha Nasional

 

Nurdin Muhammad S.pd, 2006.
Matematika untuk SLTP Kelas I.erlangga; Jakarta

Sanjawa W, 2005. Strategi pembelajaran : brorentasi standar prosespendidikan. Kancana: Jakarta

Sugiono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kualitatif, Kuantitatif,

    dan R&D ), CV. Alfabeta, Bandung

Surya Barata, S. 2006.
Metodeologi penelitian. Rajawali pers; jakarta

Thoha, C. 2003. Teknik Evaluasi Pendidikan. Raja Grafindo Persada: Jakarta.

http://www.sekolahdasar.net/2011/03/teori-belajar-behavioristik-kognitif.html

di akses pada tangal 1 Desember 2012

 

    

.

 

 


 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s