Benteng dan danau kota ternate


BENTENG DAN DANAU KOTA TERNATE


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

M. ARMAN AHMAD

UNIVERSITAS KHAIRUN TERNATE

 

 

 


 

Benteng Kastela


Benteng ini dibangun oleh Antonio de Brito pada tahun 1521 dengan nama Nostra Senhora del Rosario, kemudian dilanjutkan oleh Garcia Henriques pada tahun 1525 dan pada tahun 1530 oleh Gonzalo Periera serta yang terakhir diselesaikan oleh Wali Negeri kedelapan Jorge de Gastro pada tahun 1540.

Di benteng inilah terjadi pembunuhan terhadap Sultan Khairun oleh Antonio Pimental atas perintah Gubernur Portugis Lopez de Mosquita pada tanggal 27 Februari 1570. Atas peristiwa tersebut putra Sultan Khairun, Baabullah (1570-1583) bangkit melawan Portugis dan akhirnya Portugis terusir dari benteng Kastela dan Ternate pada tahun 1575.

Benteng Kalamata


Benteng Kalamata sering juga disebut benteng Santa Lucia atau juga benteng Kayu Merah. Benteng ini semula dibangun oleh Pigafetta (Portugis) pada tahun 1540, kemudian dipugar oleh Pieter Both (Belanda) pada tahun 1609. Pada tahun 1625 benteng ini pernah dikosongkan oleh Geen Huigen Schapenham, kemudian tahun 1672 oleh Gils van Zeist.

Benteng yang dikosongkan ini kemudian diduduki oleh bangsa Spanyol hingga tahun 1663. Setelah diduduki oleh Belanda, benteng ini diperbaiki oleh Mayor von Lutnow pada tahun 1799. Nama benteng Kalamata diambil dari nama seorang Pangeran Ternate yang meninggal di Makassar pada bulan Maret 1676.

Benteng Oranje


Benteng ini dibangun pada tahun 1607 oleh Cornelis Matelief de Jonge (Belanda) dan diberi nama oleh Francois Wittert pada tahun 1609. Benteng Orange ini semula berasal dari bekas sebuah benteng tua yang didirikan oleh orang Melayu dan diberi nama Benteng Malayo. Di dalam benteng ini pernah menjadi pusat pemerintahan tertinggi Hindia Belanda (Gubernur Jenderal) yaitu Pieter Both, Herald Reynst, Laurenz Reaal, dan Jan P. Coen. Di benteng ini pernah pula dijadikan sebagai markas besar VOC di Hindia Belanda hingga Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen memindahkan markas besarnya ke Batavia pada tahun 1619.

Benteng ini mampu menunjukkan kemampuan manfaaat daya pertahanannya terhadap serangan Spanyol, ketika Spanyol menyeberang secara diam-diam pada malam hari dari benteng Gamalama (Kastela) melalui lorong yang sukar dengan 250 orang tiba di benteng Oranje waktu subuh, dapat dipukul mundur oleh Belanda dalam pertempuran seru satu lawan satu. Belanda dengan empat puluh orang prajuritnya yang dibantu oleh sekitar seratus orang Ternate mampu mempertahankan benteng. Perang di benteng Oranje tahun 1606 ternyata merupakan pertempuran serius antara Belanda dan Spanyol di daerah itu.

Tembok benteng yang berbahan baku batu bata, batu kali, batu karang dan pecahan kaca, ini menyisakan 13 buah meriam yang masih insitu di dalam benteng karena tidak ada bekas aktifitas penempatan baru. Meski dicurigai, beberapa di antaranya telah hilang dari tempat asalnya, ini dikarenakan pada sudut barat laut sama sekali tidak ditemukan meriam. Dilihat dari bentuk bangunan pada sudut tersebut serupa dengan sudut-sudut lainnya sebagai pos penjagaan dan pengintaian. Hilangnya meriam juga diketahui dari bekas pondasi meriam di lantai II tepat di atas pintu gerbang.

Benteng Tolluco


Benteng ini semula dibangun oleh Francisco Serao (Portugis) pada tahun 1540, kemudian direnovasi oleh Pieter Both (Belanda) pada tahun 1610. Benteng ini sering disebut benteng Holandia atau Santo Lucas, terletak di bagian utara pusat kota Ternate. Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1661 mengizinkan Sultan Madarsyah untuk menempati benteng ini dengan kekuatan pasukan sebanyak 160 orang. Letak benteng Tolucco di kelurahan Dufa-dufa yang berjarak 2 km.

Pada dinding sebelah kiri setelah pintu masuk terdapat pahatán lambang yang hingga kini belum diketahui makna pahatán tersebut. Benteng ini mengalami pemugaran tahun 1996 sehingga penampakan benteng menjadi lebih baik. Pemugaran yang dilakukan pada beberapa bagian telah menghilangkan keaslian bangunan.Contoh hilangnya bukti terowongan bawah tanah yang terhubung langsung dengan laut, yang menurut masyarakat sekitar bermula dari ruangan bawah dalam benteng  dan  penambalan bagian-bagian yang terlepas dari bangunan, yang menggunakan bahan baku modern tampak menonjol.

 

 

 

 

 

Benteng Kota Janji


Benteng yang oleh penduduk setempat disebut dengan benteng Kota Janji ini dibangun oleh penguasa Portugis di suatu lokasi pada ketinggian 50 meter dari permukaan laut di sebelah utara Kelurahan Ngade. Di benteng ini pernah bertemu dua kolom pasukan yang dibagi oleh Don Pedro de Acuna, Gubernur Jenderal Spanyol di Filipina yang pada tanggal 15 Januari 1606 mulai berlayar ke Maluku dan pada 26 Maret tiba di Teluk Talangame. Pertemuan dua kolom pasukan yang terkoordinir dengan baik ini adalah dalam rangka serangan gabungan antara orang Spanyol dan orang Tidore terhadap Ternate yang dimulai pada waktu subuh tanggal 1 April 1606. Pada saat serangan terjadi benteng ini baru saja dibangun.

 

 

 

 

 

 

 

 

Danau Tolire besar (Lamo)


Dari cerita warga setempat yang masih dipercaya hingga saat ini, kampung yang masyarakatnya hidup sejahtera itu dikutuk dan ditenggelamkan menjadi danau penguasa alam semesta karena salah seorang ayah di kampung itu menghamili anak gadisnya sendiri. Saat ayah dan anak gadisnya yang dihamilinya itu akan melarikan diri ke luar kampung, tiba-tiba tanah tempat mereka berdiri anjlok dan berubah menjadi danau.

Tolire sendiri tepat berada di bawah kaki Gunung Gamalama. Di sisi kanan danau, tak jauh di bagian selatan terdapat sebuah danau kecil yang diberi nama Tolire kecil (ici). Jarak antar keduanya hanya sekitar 200 meter. Dari kedua danau ini, yang sering dikunjungi adalah Tolire Besar (lamo). Tolire yang besar mencerminkan figur ayah dan Tolire kecil mencerminkan putri nya.

Danau yang memiliki keunikan adalah Danau Tolire Besar. Danau ini menyerupai loyang raksasa. Dari pinggir atas hingga ke permukan air danau, dalamnya sekitar 50 meter, luasnya sekitar lima hektar. Danau Tolire Besar ini berair tawar dan terdapat banyak ikan, namun masyarakat setempat tidak ada yang berani menangkap ikan atau mandi di danau itu, karena mereka meyakini bahwa danau yang airnya berwarna coklat kekuning-kuningan itu, dihuni oleh banyak buaya siluman. Buaya-buaya siluman ini sering terlihat berenang ditengah danau. Warnanya putih dan panjangnya sekitar 10 meter. Tidak semua orang bisa melihat buaya siluman itu, hanya mereka yang beruntung yang bisa. Menurut masyarakat setempat, kalau berhati bersih baru berpeluang melihat buaya siluman di danau itu.

Ada cerita juga, dulu ada seorang wisatawan asing yang tidak percaya bahwa di danau itu ada buaya siluman. Wisatawan itu turun mandi ke danau tersebut dan setelah berenang beberapa menit, ia menghilang. Diduga wisatawan itu dimangsa oleh buaya siluman. Misteri lainnya yang belum terkuak yakni soal kedalaman danau tersebut yang konon tidak berbatas. Memang sampai saat ini tidak ada tinjauan secara ilmiah tentang dalamnya danau Tolire. Dari cerita warga setempat, kedalaman danau tolire berkilo-kilo meter dan berhubungan langsung dengan laut. Pernah ada yang mencoba mengukur tapi tidak berhasil mencapai dasarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s