cerpen terbaru 2014

Telah Terbit Di Leutikaprio!!!

 

SIMOAN


Sinopsis:

…Satu tendangan ke arah rusuk kanan, Fernando terpental, terbentur televisi. Satu tendangan lagi, dua tendangan, tiga pukulan menggunakan senjata, Fernando terlempar ke dinding, jatuh mengena meja kaca, terkapar di atas kertas yang berisi propaganda perlawanan. Darah tiba-tiba mengalir dari hidung mancung Fernando. Air matanya pecah, berhamburan di lantai. Ia bergulung kesakitan, seperti berasa tulangnya retak. Fernando belum mati, namun setengah mati…. (Penggalan cerpen “Manifesto, Hujan, dan Polisi”)

 

“…Cerpen-cerpen Rajif bagi saya semacam ekspedisi perasaan. Saya menganggapnya sebagai usaha untuk masuk ke ranah interior, mengungkap sudut paling peka dari manusia yang senantiasa menghadapi beragam konflik yang mengelilinginya, baik itu konflik budaya, modernitas, sampai yang lebih sentimentil berupa kenangan dan pergolakan batin antarlelaki dan wanita. Ia juga memainkan simbol-simbol untuk memperdalam dan memperindah pengungkapannya. Sebuah ekspedisi yang layak untuk terus dijalani sampai ke titik paling sunyi….” (Sungging Raga, Cerpenis)

Penulis : Rajif Duchlun

Tebal : 110 halaman

Harga : Rp. 29.100,00

ISBN : 978-602-225-890-2

 

Buku ini sudah bisa dipesan sekarang via :

– SMS ke 0819 0422 1928

– Inbox FB dengan subjek PESAN BUKU

– Email ke leutikaprio@hotmail.com

Atau klik >>>

http://www.leutikaprio.com/produk/11027/kumpulan_cerpen/14071047/simoan/14076171/rajif_duchlun



 

cara ekstraksi alga

TUGAS KIMIA BAHAN HAYATI LAUT

 

 

 

 


 

 

OLEH :

 

M. ARMAN AHMAD

051609013

 

 

 

PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2013

  1. CARA MENGEKSTRAKSI ALGA COKLAT (Sargassum filipendula) MENJADI ALGINAT

     

  • Prosedur Ekstraksi Alginat Menurut Rasyid (2003)
  1. Rumput laut Sargassum filipendula kering seberat 5 gram direndam dalam larutan HCl 0,5% selama 30 menit, dengan perbandingan 1:15 b/v (rumput laut:larutan HCl) dengan tujuan untuk meningkatkan kadar alginat dan membebaskan garam-garam mineral.
  2. Perendaman berikutnya dilakukan menggunakan larutan NaOH 0,5% dengan perbandingan 1:15 b/v (rumput laut:NaOH 0,5%} selama 30 menit, dengan tujuan untuk menghilangkan senyawa protein.
  3. Setelah perendaman, rumput laut diekstraksi dengan menginkubasi rumput laut tersebut dalam larutan Na2CO3 2% pada suhu 60oC selama 60 menit.
  4. Selanjutnya, dilakukan penyaringan dengan kertas saring, dan filtrat yang diperoleh ditambahkan larutan NaOCl 10% sebanyak 2% dari jumlah filtrat yang dihasilkan, diaduk sampai warnanya berubah menjadi kuning.
  5. Kemudian, filtrat yang diperoleh diatur pH-nya menjadi 1-2 dengan menambahkan larutan HCl 15%, didiamkan 30 menit, dan disaring menggunakan penyaring berukuran 40 mesh.
  6. Gel yang diperoleh kemudian dilarutkan dalam larutan Na2CO3 10%, diaduk sampai homogen, dan pH diatur sampai netral.
  7. Selanjutnya, larutan tersebut dilarutkan dalam larutan isopropil alkohol sambil diaduk.
  8. Akhirnya, serat yang diperoleh kemudian dikeringkan, dan merupakan rendemen alginat. Alginat diyakini dalam bentuk garam Na-alginat yang diekstraksi menggunakan garam Na2CO3.

 

RUJUKAN

Rasyid, A. 2003. Alga Coklat (Phaeophyta) sebagai Sumber Alginat. Oseana Volume XXVIII No. 1: 33-38

Widyastuti, S. 2008. Kadar Alginat Rumput Laut Yang Tumbuh Di Perairan Laut Lombok Yang Diekstrak Dengan Dua Metode Ekstraksi. Program Studi Tenologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Mataram. Lombok.

 

 

 

 

 

 

  1. CARA MENGEKSTRAKSI ALGA MERAH (Eucheuma cottonii) MENJADI KARAGENAN

 

  1. Persiapan

    Rumput laut kering yang digunakan adalah Eucheuma cottonii berasal dari daerah Bantaeng.

  2. Perlakuan Alkali

    Rumput laut dimasak dalam larutan alkali (penambahan NaOH2% hingga mencapai pH 8-9) dengan perbandingan aquades 1:20pada temperatur 85-90oC selama 2 jam. .

  3. Penghancuran/agitasi

    Rumput laut dihancurkan setelah mengalami perlakuan alkali seperti bubur dengan proses pengadukan atau agitasi.

  4. Ekstraksi

    Rumput laut dimasak dalam kondisi alkali KOH (5%, 10%, 15%) pH 9-10 dengan perbandingan aquades 1:3 pada temperatur pemanasan 90oC selama 15 dan 18 jam . selama proses ekstraksi, larutan diaduk menggunakan magnetik stirer untuk membantu proses pengadukan.

  5. Penyaringan/filtrasi

    Bubur disaring dengan cepat dalam keadaan panas menggunakan kain saring sampai filtrat dalam bentuk sol (cairan kental) terpisah dari residu/ampas padat.

  6. Penambahan alcohol

    Ditambahkan Isopropanol 95% berlahan-lahan (sedikit-demi sedikit) pada filtrat, pada suhu 60-70oC sambil diaduk sampai terbentuk endapan karaginan yang akan terpisah dengan cairannya.

  7. Pengeringan/penepungan

    Serat karaginan didinginkan dalam alat pengering pada suhu 60-70oC selama 12 jam.

 

RUJUKAN

Fatimah, M. ST. 2012. Studi Pengaruh Konsentrasi KOH dan Lama Ekstraksi terhadap Karakteristik Karagenan dari Rumput Laut (eucheuma cottonii). Skripsi Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Hasanuddin. Makassar.

 

 

 

 

 

 

  1. CARA MENGEKSTRAKSI ALGA HIJAU (Scenedesmus sp) SEBAGAI BAHAN BAKU BIODIESEL

     

  2. Ekstraksi Minyak dari Alga
    1. Alga yang akan diolah menjadi biodiesel dikeringkan terlebih dahulu. Pengeringan dilakukan di bawah sinar matahari. Pengeringan ini bertujuan untuk menghilangkan air yang terkandung di dalam alga.
    2. Alga yang sudah kering diblender untuk memecah dinding selnya supaya minyak yang terkandung di dalamnya dapat terekstrak.
    3. Kemudian alga yang sudah di blender disaring menggunakan kain kasa dan diambil filtratnya.
    4. Filtrat yang diperoleh dimasukkan ke dalam corong pisah dan didiamkan sampai terbentuk dua fasa. Pemisahan dengan corong pisah merupakan salah satu metode pemisahan sederhana yang digunakan untuk memisahkan dua atau lebih zat berdasarkan massa jenisnya. Minyak mempunyai massa jenis yang lebih kecil dari air, sehingga pada waktu pemisahan dengan corong pisah, minyak berada pada lapisan atas.
    5. Kemudian minyak yang sudah terpisah ditampung dalam wadah lain.

 

  1. Konversi Minyak Alga Menjadi Biodiesel

Minyak alga yang diperoleh dari hasil ekstraksi diubah menjadi biodiesel melalui reaksi transesterifikasi trigliserida dengan metanol.

Metode transesterifikasi pada dasarnya terdiri atas 4 tahapan sebagai berikut :

  1. Pembuatan metoksida dengan cara mencampuran katalis KOH dengan metanol pada konsentrasi katalis antara 0,5 – 1 wt% dan 10 – 20 wt% metanol terhadap massa minyak.
  2. Pencampuran metoksida dengan minyak pada temperatur 55o C dengan kecepatan pengadukan konstan, reaksi dilakukan sekitar 30 – 45 menit.
  3. Setelah reaksi berhenti, campuran didiamkan hingga terjadi pemisahan antara metil ester dengan gliserol. Metil ester yang dihasilkan pada tahap ini sering disebut sebagai crude biodiesel, karena metil ester yang dihasilkan mengandung zat-zat pengotor, seperti sisa metanol, KOH, dan gliserol.
  4. Metil ester yang dihasilkan pada tahap ketiga dicuci menggunakan air hangat untuk memisahkan zat-zat pengotor dan kemudian dilanjutkan dengan destilasi untuk menguapkan air yang terkandung dalam biodiesel.

 

RUJUKAN

Triantoro, K. 2008. Alga Mikro Scenedesmus Sp. Sebagai Salah Satu Alternatif Bahan Baku Biodiesel Di Indonesia. Lomba Karya Tulis Ilmiah (LKTI) tingkat umum. Yogyakarta.

jenis-jenis alga merah

ALGA MERAH (RHODOPHYCEAE)

 


 

Di Susun Oleh :

M. Arman Ahmad

Angkatan 2009

 

 

PROGRAM STUDY MANAJEMEN SUMBER DAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2011

 

 

ALGA MERAH (RHODOPHYCEAE)

  1. JENIS-JENIS ALGA MERAH (RHODOPHYCEAE)
  2. Acanthophora muscoides     
  3. Acantophora specifera

  4. Actinotrichia fragilis (Forsskal)
  5. Amphiora peruana

  6. Amphiroa beauvoisii Lamouroux

  7. Amphiroa rigida
  8. Amphiroa sp.
  9. Ceratodityon variabilis

  10. Chondrococcus hornemannii
  11. Corallina sp.
  12. Eucheuma denticulatum
    Jania adherens
  13. Kappaphycus alvarezii (Doty)  
  14. Kappaphycus
    cottonii  
  15. Kappaphycus striatum  
  16. Galaxaura
    Kjellmanii Weber van Bosse

  17. Galaxaura
    rugosa (Solander) Lamouroux
  18. Galaxaura
    subfruticulosa Chou.

  19. Galaxaura
    subvefficillata
    Kjellman

  20. Galaxaura
    vietnamensis Dawson

  21. Gelidium
    latifolium

  22. Gelidium Sp
  23. Gigartina
    affinis Harvey

  24. Gracilaria
    arcuata
    Zanardini

  25. Gracilaria
    coronopifolia J. Agardh.

  26. Gracilaria eucheumioides Harvey
  27. Gracilaria
    foliifera (Forsskal) Boergese

  28. Gracilaria foliifera (Forsskal) Boergese

  29. Gracilaria gigas Harvey  


  30. Gracilaria salicornia  


  31. Gracilaria salicornia (C. Agardh) Dawson

  32. Gracilaria verrucosa  


  33. Halymenia durvillaei  


  34. Halymenia harveyana J. Agardh  


  35. Hypnea asperi Bory  


  36. Hypnea cervicornis J. Agardh.  


  37. Hypnea cornuta  


  38. Eucheuma edule


  39. Eucheuma
    edule
    Koetzing


  40. Eucheuma
    serra J. Agardh


  41. Galaxaura
    filamentosa Chou
    Laurencia
    elata


  42. Laurencia
    intricata
    Lamouroux  

     

  43. Laurencia
    nidifica J. Agardh.  


  44. Laurencia
    obtusa (Hudson) Lamouroux  


  45. Laurencia
    poitei  


  46. Liagora
    divaricata Tseng  


  47. Porphyglossum
    zolingerii  


  48. Porphyra sp.  


  49. Porphyra sp. fase
    conchocelis  


  50. Portieria
    hornemanii  


  51. Rhodimenia sp.  


  52. Rhodymenia palmata (Linnaeus) Greville


  53. Titanophora
    pulchra Dawson.

 

 

  1. Acanthophora muscoides


  • Spesifikasi:

    Thallus silindris, berduri tumpul seperti bulatan lonjong merapat yang terdapat di hampir seluruh permukaan thalli. Percabangan tidak teratur, gembal merimbun di bagian atas rumpun, warna coklat tua. Tinggi rumpun dapat dapat mencapai sekitar 15 cm.

  • Sebaran:

    Tumbuh melekat pada batu di daerah rataan terumbu, biasanya di tempat yang selalu tergenang air dan sering terkena ombak langsung. Sebarannya tidak seluas A. spicifera, agak terbatas pada tempat tertentu saja, misal di Kepulauan Seribu.

  • Potensi:

Belum dimanfaatkan

  1. Acanthophora specifera


  • Spesifikasi:

    Thallus silindris, percabangan bebas, tegak, terdapat duri-duri pendek sekitar thallus yang merupakan karakteristik jenis ini. Substansi cartilaginous, warna coklat tua atau kekuning-kuningan. Rumpun lebat dengan percabangan ke segala arah.

  • Sebaran:

    Tumbuh pada substrat batu atau substrat keras lainnya, dapat bersifat epifit. Sebaran tumbuhnya meluas di perairan Indonesia.

  • Potensi:

Belum dimanfaatkan tetapi dapat dimakan dan mempunyai prospek di bidang farmasi.

 

  1. Actinotrichia fragilis


  • Spesifikasi:

    Thallus bulat mengeras permukaan kasar. Membentuk rumpun rimbun dengan percabangan dichotomus (mendua arah). Melekat pada substrat dengan alat tempel (holdfast) yang kecil berbentuk cakram. Warna merah muda orange atau kadang-kadang pirang.

  • Sebaran:

    Tumbuh pada karang batu mati di rataan terumbu atau di padang lamun yang umumnya selalu terendam air (subtidal). Mempunyai sebaran yang luas.


Potensi:

Belum dimanfaatkan

 

  1. Amphiroa peruana


  • Spesifikasi:

Ciri-ciri umum.

  • Sebaran:

    Habitat. Sebaran. Asli alge tropis. Ditemukan di sebagian besar perairan kepulauan Nusantara.

  • Potensi:

Manfaat. Tidak diketahui Potensi. Tidak diketahui

 

  1. Amphiroa beauvoisii


  • Spesifikasi:

    Ciri-ciri umum. Alge tumbuh tegak, melekat pada substrat dengan semacam serabut cakram, warna merah, tinggi kurang dari 10 cm. Thalli mengalami pengapuran yang tebal, tersusun oleh deretan segmen-segmen berbentuk seperti manik-manik.

  • Sebaran:

    Habitat. Hidup di zona pasang surut bagian tengah hingga subtidal. Menempel pada batu karang atau pecahan karang mati. Sering sebagai alge asosiasi pada padang Halimeda. Sebaran. Asli sebagai alge tropis. Mudah ditemukan di perairan kepulauan Nusantara.

  • Potensi:

Manfaat. Tidak diketahui. Potensi. Tidak diketahui. Tidak dibudidayakan.

 

  1. Amphiroa rigida


  • Spesifikasi:

    Alge tumbuh tegak, membentuk koloni, warna merah, alat pelekat berupa cakram kecil, tinggi kurang dari 10 cm. Thalli agak pipih, seperti pita tipis, lebar sekitar 1 mm. Percabangan dikhotom, kadang pada bagian simpul cabang agak melebar.

  • Potensi:

Belum dimanfaatkan

 

  1. Amphiroa sp.


  • Spesifikasi:

    Ciri-ciri umum. Thallus bersegmen pendek, silindris di bagian bawah dan agak gepeng di bagian atasnya. Rumpun rimbun dengan percabangan dichotomus dan mencapai tinggi sekitar 5-10 cm. Substansi thallus keras dan rapuh mengandung zat kapur.

  • Sebaran:

    Tumbuh pada batu umumnya di daerah pinggir luar rataan terumbu. Sebarannya tidak begitu luas antara lain terdapat di pantai selatan Jawa.

  • Potensi:

Manfaat. Belum dimanfaatkan. Potensi. Tidak diketahui

 

  1. Ceratodityon variabilis


  • Sebaran:

    Tumbuh umumnya di daerah ujung luar rataan terumbu yang senantiasa terendam air, melekat pada substrat batu dengan holdfast yang berbentuk cakram kecil.

  • Potensi:

Belum dimanfaatkan.

 

  1. Chondrococcus hornemannii


  • Spesifikasi:

    Thalli pipih, permukaan thalli halus, membentuk rumpun kecil tetapi sangat rimbun saling bertumpukan. Percabangan berselang seling teratur, merapat warna merah-ungu atau pirang.

  • Sebaran:

    Tumbuh umumnya di daerah ujung luar rataan terumbu yang senantiasa teredam air, melekat pada substrat batu dengan holdfast yang berbentuk cakram kecil.

  • Potensi:

Belum diketahui

 

  1. Corallina sp.


  • Spesifikasi:

    Thallus gepeng, bersegmen pendek, membentuk rumpun yang rimbun bertumpuk-tumpuk dengan percabangan alternate teratur. Substansi thallus keras mengandung zat kapur dan rapuh dengan warna merah pucat.

  • Sebaran:

    Tumbuh di bagian sisi luar terumbu yang biasa terkena ombak langsung. Sebarannya tidak begitu luas, antara lain terdapat di pantai selatan Jawa.

  • Potensi:

Belum diketahui.

 

  1. Eucheuma denticulatum


  • Spesifikasi:

    Synonims : Eucheuma spinosum (linnaeus) J. Agardh. Thallus silindris, permukaan licin, cartilaginaeus, warna coklat tua, hijau-coklat, hijau kuning atau merah-ungu. Ciri khusus secara morfologis, jenis ini memiliki duri-duri yang tumbuh berderet melingkar.

  • Sebaran:

    Alga ini tumbuh tersebar di perairan Indonesia pada tempat-tempat yang sesuai dengan persyaratan tumbuhnya, antara lain substrat batu, air jernih, ada arus atau terkena gerakan air lainnya, kadar garam antara 28-36% dan cukup sinar matahari.

  • Potensi:

    Alga ini yang diperoleh dari produksi alami dan budidaya merupakan komoditas ekspor dan untuk konsumsi dalam negeri. Di dalam negeri dimanfaatkan untuk bahan makanan, sayuran dan lalapan pada beberapa tempat tertentu di wilayah pantai antara lain di Lombok.

 

  1. Eucheuma edule


  • Spesifikasi:

    Thallus silindris, permukaan licin, gelatinaeus-cartilaginaeus, warna hijau-kuning atau coklat-hijau. Percabangan berselang seling dengan interval yang jarang. Pada Thallus terdapat benjolan-benjolan yang sebagian berkembang menjadi duri-duri besar.

  • Sebaran:

    Tempat tumbuh umumnya pada daerah-daerah yang selalu terkena gerakan air, di bagian ujung luar terumbu, melekat pada batu. Terdapat turnbuh di perairan Bali dan Lombok.

  • Potensi:

Belum banyak dimanfaatkan secara kornersial.

 

  1. Eucheuma edule Koetzing


  • Spesifikasi:

    Thallus silindris, permukaan licin, gelatinaeus-cartilaginaeus, warna hijau-kuning atau coklat-hijau. Percabangan berselang seling dengan interval yang jarang. Pada Thallus terdapat benjolan-benjolan yang sebagian berkembang menjadi duri-duri besar.

  • Sebaran:

    Pertumbuhannya menempel pada batu di daerah rataan terumbu karang. Kelimpahannya rendah (tidak begitu umum dijumpai).

  • Potensi:

Sebagai sumber kappa karaginan, merupakan komoditas ekspor seperti halnya dengan Kappaphycus alvarezii hasil budidaya. Produksinya masih bersifat alami, belum ada dari budidaya. Populasinya di alam tidak begitu banyak seperti E. spinosum.

  1. Eucheuma serra J. Agardh


  • Spesifikasi:

Thallus gepeng, pinggir bergerigi, permukaan licin, cartilagineus, warna merah atau merah pucat. Ciri khusus secara morfologis menyerupai bentuk binatang lipan sehingga di Bali dinamai bulung lipan. Percabangan berselang-seling tidak beraturan.

  • Sebaran:

Tempat tumbuh umumnya pada daerah-daerah yang selalu terkenan gerakan air, di bagian ujung luar terumbu, melekat pada batu. Terdapat tumbuh di perairan Bali dan Lombok.

  • Potensi:

Belum banyak dimanfaatkan secara komersil.

 

  1. Galaxaura filamentosa Chou


  • Sebaran:

    Tumbuh pada batu di daerah rataan terumbu. Sebarannya tidak begitu rneluas dan tidak begitu urnum dijumpai.

  • Potensi:

Belum dimanfaatkan.

 

  1. Galaxaura Kjellmanii Weber van Bosse


  • Spesifikasi:

    Thallus agak silindris di bagian pangkal dan agak gepeng ke bagian puncak. Segmen thallus sekitar 0,5 – 1 cm. Percabangan dichotomous tak teratur dengan ujung thallus meruncing. Rumpun lebih banyak membentuk percabangan di bagian atas.

  • Sebaran:

    Tumbuh pada batu di daerah rataan terumbu. Sebarannya tidak begitu meluas dan tidak begitu umum dijumpai.

  • Potensi:

Belum dimanfaatkan.

 

  1. Galaxaura rugosa (Solander) Lamouroux


  • Spesifikasi:

    Thallus silindris berbuku-buku pendek (sekitar 1-1,5 cm). Percabangan dichotomous tidak teratur membentuk rumpun yang merimbun dibagian atas. Ujung thallus tumpul dan agak membentuk lubang. Tinggi rumpun dapat mecapai sekitar 5-7 cm. Warna thallus pirang.

  • Sebaran:

    Tumbuh melekat pada batu di bagian dalam dan luar rataan terumbu. Sebaran tidak begitu meluas dan tidak begitu umum dijumpai antara lain terdapat di perairan pantai selatan Jawa dan Selat Sunda.

  • Potensi:

Belum dimanfaatkan.

 

  1. Galaxaura subfruticulosa Chou


  • Spesifikasi:

    Sinonim : = Galaxaura fruticulosa Kjelman. Thallus silindris, bersegmen, percabangan dichotomous atau subdichotomous. Rumpun rimbun, mencapai tinggi 10 cm, menancap dengan holdfast yang meyerupai cakram. Warna merah-coklat.

  • Sebaran:

Tumbuh di daerah rataan terumbu, menempel pada substrat batu.

  • Potensi:

Belum ada

 

  1. laxaura subvefficillata Kjellman


  • Spesifikasi:

    Thalli silindris, keras dengan bulu-bulu halus di permukaan, berkesan empuk, percabangan dan ujung thallus dikhotomous. Tumbuhan ini membentuk rumpun yang lebat seolah menggumpal di bagian atas. Ujung thallus papak berlubang. Warna coklat-ungu.

  • Sebaran:

    Tumbuh melekat pada substrat batu di daerah rataan terumbu karang yang umumnya selalu tergenang air.

  • Potensi:

Belum diketahui

 

  1. Galaxaura vietnamensis Dawson


  • Sebaran:

    Tumbuh pada batu di daerah intertidal atau subtidal. Tenipat tumbuhnya muncul di permukaan air, bahkan kadang-kadang kekeringan pada saat air surut rendah. Tumbuh tersebar meluas di perairan Indonesia.

  • Potensi:

    Sebagai sumber agar, produksi masih seluruhnya diambil dari alam bersama-sama dengan Gelidium. Dijual untuk keperluan lokal (konsumsi domestik) dan ekspor.

  1. Gelidium latifolium


  • Spesifikasi:

Agar Merah (red alga)

  • Sebaran:

    Daerah tanaman tumbuh dalam substrat karang, ombak besar, daerah intertidal, mempunyai stolon, thallus sangat liat,.

  • Potensi:

    Mempunyai kadar agarose, kolesterol, vitamin B12 (Gelidium capillaceum), penghasil asam amino, asam aspartat, dll. Mempunyai potensi nilai ekspor yang besar (ke Jepang)

  1. Gelidium Sp


  • Potensi:

Belum banyak dimanfaatkan

  1. Gigartina affinis Harvey


  • Spesifikasi:

    Sinonim: = Carpopeltis affinis (Harvey) Okamura Thallus umumnya gepeng dan agak silindris ke arah bagian pangkal, ujung rneruncing. Percabangan di atau tri chotomous saling berlawanan dengan mernbentuk rumpun yang lebih merimbun.

  • Sebaran:

    Tumbuh menempel pada batu di daerah rataan terumbu, terutama di tempat-tempat yang masih tergenang air pada saat surut rendah. Sebaran tumbuhnya tidak meluas, antara lain terdapat di pantai selatan Jawa.

  • Potensi:

Belum banyak dimanfaatkan.

 

  1. Gracilaria arcuata Zanardini


  • Spesifikasi:

    Thalli bulat silindris, licin, warna pirang-hijau, atau hijau jingga. Substansi cartilaginous, menempel pada substrat dengan holdfast berbentuk cakram. Rumpun merimbun di bagian atas dengan percabangan mengecil pada bagian pangkal, ujung runcing.

  • Sebaran:

Umumnya tumbuh melekat pada batu dan tersebar di daerah rataan terumbu karang.

  • Potensi:

    Sebagai sumber agar, protein, vitamin, mineral. Merupakan bahan baku untuk industri agar-agar dalam negeri. Mengandung bahan untuk agar. Untuk Ekspor ke Jepang. Budidaya rumput laut untuk pembuatan agar. Potensi ekonomi 1 ha = 5 ton

 

  1. Gracilaria coronopifolia J. Agardh


  • Spesifikasi:

Thalli silindris, licin, warna coklat-hijau atau coklat kuning (pirang), menempel pada substrat dengan cakram kecil. Percabangan mendua bagian (dichotomous) berulang -ulang. Umumnya rimbun pada porsi bagian atas rumpun. Warna hijau-pirang.

  • Sebaran:

Tumbuh pada batu di daerah terumbu karang.

  • Potensi:

Sebagai sumber agar, protein, vitamin, mineral. Merupakan bahan baku untuk industri agar-agar dalam negeri.

 

  1. Gracilaria eucheumioides Harvey


  • Spesifikasi:

Thallus gepeng, halus, pinggir bergerigi, membentuk rumpun radial seperti umbi tanaman jahe, oleh karena itu di P.P. Seribu dinamai agar-agar jahe. Percabangan dichotomous. Ukuran thalli panjang 10 cm, lebar 1 cm. Warna hijau-coklat.

  • Sebaran:

Tumbuh melekat pada substrat batu, urnurnnya di daerah rataan terurnbu karang. Tidak meiliki sebaran turnbuh yang begitu meluas di perairan Indonesia. Kelimpahannya tidak begitu tinggi, dan tidak termasuk jenis yang umum didapat.

  • Potensi:

Sebagai sumber agar terutama bagi penduduk lokal. Diolah menjadi agar-agar untuk makanan lokal. Mengandung bahan untuk agar. Untuk Ekspor ke Jepang. Budidaya rumput laut untuk pembuatan agar. Potensi ekonomi 1 ha = 5 ton


 

jenis-jenis alga cokelat

ALGA COKELAT (PHAEOPHYCEAE)

 


 

Di Susun Oleh :

M. Arman Ahmad

Angkatan 2009

 

 

PROGRAM STUDY MANAJEMEN SUMBER DAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2011

 

Alga Coklat (Phaeophyceae)

 

  • Jenis-jenis alga coklat (Phaeophyceae)

 

  1. Cystoseira sp.     
  2. Dictyopteris sp.

  3. Dictyota bartayresiana Lamouroux     
  4. Hormophysa cuneiformis
  5. Hormophysa triquetra (C. Agardh)
  6. Hydroclathrus clatratus (C. Agardh)
  7. Turbinaria conoides (J. Agardh)  
  8. Turbinaria decurens (Bory)  
  9. Turbinaria murayana  
  10. Turbinaria ornata (Turner) J. Argadh.
  11. Sargassum crassifolium  
  12. Sargassum cristaefolium  
  13. Sargassum duplicatum J.G. Agardh
  14. Sargassum echinocarpum  
  15. Sargassum plagyophyllum (Mertens)
  16. Sargassum polycystum
    Oseng

  17. Padina australis Hauck

  18. Sargassum binderi (Sonder)

 

  1. Cystoseira sp


  • Spesifikasi:

Ciri-ciri umum. Alge tegak, warna coklat, sumbu tegak silindris, ‘daun’ bagian bawah besar seperti pita, bertepi rata, tersusun berhadapan atau agak berseling, vesikula oval atau bulat tersusun berseri, 2-3 deret, ujungnya runcing.

  • Sebaran:

Habitat. Hidup mulai dari zona pasang surut bagian tengah hingga subtidal. Sering ditemukan dalam kolam-kolam besar pasang surut yang berdasar karang. Sebaran. Cosmopolitan di perairan tropis hingga subtropis. Kurang banyak ditemukan di perairan Indonesia.

  • Potensi:

Belum dimanfaatkan

  1. Dictyopteris sp


  • Spesifikasi:

Thallus berbentuk batang silindris dengan daun pipih memanjang serta memiliki tulang tengah daun yang jelas. Pinggir daun bergelombang atau bergerigi dan ujung daun ada yang runcing dan ada pula yang tumpul atau rata.

  • Sebaran:

Tumbuh melekat pada substrat batu daerah pinggir luar rataan terumbu. Sebarannya tidak begitu meluas dan tidak umum dijumpai antara lain terdapat di perairan pantai selatan Jawa, Selat Sunda dan Bali.

  • Potensi:

Belum ada. Dalam literatur Dictyopteris spp. disebutkan dapat berguna sebagai obat anti tumor dan anti mikrobial.

  1. Dictyota bartayresiana Lamouroux


  • Spesifikasi:

Thallus pipih seperti pita mencapai panjang 5 cm dan lebar 2-3 mm, pinggir rata. Percabangan dichotomus dengan ujung meruncing membentuk rumpun yang rimbun sehingga sering merupakan gumpalan. Warna thallus coklat tua. Dictyota crenulata (J.Argadh).

  • Sebaran:

Tumbuh menempel pada batu karang mati di daerah rataan terumbu. Sebarannya tidak begitu luas.

  • Potensi:

Di Indonesia belum ada dan belum diteliti pemanfaatannya.

  1. Hormophysa cuneiformis


  • Spesifikasi:

Ciri-ciri umum. Alge tegak, rimbun, alat pelekat seperti cakram dan rhizoid pendek, bagian pangkal thalli menyerupai tangkai, warna coklat tua. Sepanjang sumbu tegak dan cabang-cabanya, pada kedua sisinya terdapat semacam ‘sayap’ yang bentuknya tidak teratur.

  • Sebaran:

Habitat. Hidup di zona pasang surut bagian tengah hingga subtidal. Menempel pada batu karang. Seringkali membentuk koloni, meski tidak luas. Seringkali berasosiasi dengan Sargassum dan Turbinaria. Sebaran.

  • Potensi:

Manfaat. Dipakai sebagai bahan ekstraksi alginat. Di Filipina dimanfaatkan sebagai kompos. Potensi. Tidak diketahui. Tidak dibudidayakan.

  1. Hormophysa triquetra


  • Spesifikasi:

Thalli tegak berbentuk penampang segitiga (triquetra) permukaan licin warna coklat-kuning atau coklat hijau, membentuk rumpun yang rimbun tinggi dapat mencapai 60 cm. Percabangan tumbuh pada segment-segment thalli secara berseling-seling.

  • Sebaran:

Tumbuh melekat pada batu dengan holdfast yang berbentuk cakram kecil. Populasinya bercampur dengan komunitas Sargassum dan Turbinaria di daerah rataan terumbu karang. Bagi yang belum mengenal tumbuhan jenis ini sering keliru dengan sargassum.

  • Potensi:

Belum dimanfaatkan di Indonesia. Sebagai penghasil alginate fenol dan tannin juga dapat dimakan.

 

  1. Hydroclathrus clatratus


  • Spesifikasi:

Thalli silindris, licin, lunak membentuk rumpun sirkular dengan percabangan yang tersusun seperti jaring (net), menggumpal, warna pirang atau coklat tua.

  • Sebaran:

Tumbuh melekat pada substrat di daerah berbatu atau berpasir di rataan terumbu. Tersebar agak luas di perairan Indonesia.

  • Potensi:

Belum banyak diketahui

  1. Oseng


  • Spesifikasi:

Thalli silindris berduri-duri kecil merapat, holdfast membentuk cakram kecil dengan diatasnya secara karakteristik terdapat perakaran/stolon yang rimbun berekspansi ke segala arah. Batang pendek dengan percabangan utama tumbuh rimbun di bagian ujungnya.

  • Sebaran:

Tumbuh pada substrat batu atau benda keras lainnya, di daerah rataan terumbu Terdapat dengan sebaran yang meluas di perairan Indonesia.

  • Potensi:

Kandungan kimianya antara lain berupa alginate dan yodium (iodin). Belum dimanfaatkan.

  1. Padina australis Hauck


  • Spesifikasi:

Ciri-ciri umum. Bentuk thalli seperti kipas membentuk segment-segment lembaran tipis (lobus) dengan garis-garis berambut radial dan perkampuran di bagian permukaan daun. Warna coklat kekuning-kuningan atau kadang kadang memutih karena terdapat perkapuran.

  • Sebaran:

Habitat. Sebaran. Alge tersebar luas di perairan Pasifik selatan dan perairan Samodera Hindia. Mudah ditemukan di perairan Indonesia.

  • Potensi:

Manfaat. Belum diketahuai. Potensi. Belum diketahui.

  1. Sargassum binderi


  • Spesifikasi:

Batang gepeng (1,5 mm),halus licin, tinggi mencapai sekitar 60 cm, percabangan ‘alternate’ teratur, opposite (Kiri Kanan), cabang utama yang pendek (1-2 cm) di atas holdfast. Daun lonjong, pinggir bergerigi, panjang 5 cm, lebar 1 cm, ujung runcing.

  • Sebaran:

Tumbuh pada substrat batu umumnya di daerah rataan terumbu dekat bagian ujung luar yang terkena gerakan air relatif lebih kuat dan konstant.

  • Potensi:

Belum banyak dimanfaatkan, kandungan kimia sama dengan jenis Sargassum lainnya.

  1. Sargassum cinereum


  • Spesifikasi:

Batang (thalli) silindris, licin, holdfast bentuk cakram. Percabangan alternate (sebelah-menyebelah) tidak teratur dengan interval yang panjang. Daun berbentuk lonjong atau mengapak, pinggir berliku-liku atau bergerigi berukuran kecil, panjang 2,5 cm.

  • Sebaran:

Dikoleksi dari perairan terumbu karang Pulau Pari, Kepulauan Seribu, Laut Jawa.

  • Potensi:

Belum dimanfaatkan.

  1. Sargassum crassifolium


  • Spesifikasi:

Thalli agak gepeng, licin, tetapi batang utama bulat agak kasar, holdfast cakram menggaruk. Cabang pertama timbul pada bagian pangkal sekitar 1 cm dari holdfast. Percabangan berselang-seling teratur. Daun oval atau memanjang, 40 x 10 mm.

  • Sebaran:

Habitat. Hidup di zona pasang surut bagian tengah hingga subtidal. Menempel pada batu karang atau substrat keras lainnya. Sering membentuk koloni dan berasosiasi dengan kelompok Sargassum dan Turbinaria. Sebaran. Kosmopolitan di perairan tropis.

  • Potensi:

Manfaat. Dipanen bersama kelompok Sargassum lainnya untuk dipakai sebagai bahan ekstraksi alginat. Potensi. Tidak diketahui. Tidak dibudidayakan.

  1. Sargassum cristaefolium


  • Spesifikasi:

Thalli bulat pada batang utama dan agak gepeng pada percabangan, permukaan halus atau licin. Percabangan dichotomous dengan daun bulat lonjong, pinggir bergerigi, tebal dan duplikasi (double edged). Vesicle melekat pada batang daun, bulat telur atau elips.

  1. Sargassum duplicatum


  • Spesifikasi:

Thalli bulat pada batang utama dan agak gepeng pada percabangan, permukaan halus atau licin. Percabangan dichotomous dengan daun bulat lonjong, pinggir bergerigi, tebal dan duplikasi (double edged). Vesicle melekat pada batang daun, bulat telur atau elips.

  • Sebaran:

Tumbuh menempel pada batu di daerah terumbu terutama di bagian pinggir luar rataan terumbu yang sering terkena ombak. Sebaran, pantai Selatan Jawa, Maluku.

  • Potensi:

Belum banyak dimanfaatkan.

  1. Sargassum echinocarpum


  • Spesifikasi:

Batang utama silindris pendek sekitar panjang satu sentimeter dan diameter tiga milimeter, melekat dengan holdfast berbentuk discoidal atau conical. Thalli pada percabangan adalah gepeng atau pipih, licin, berselang-seling teratur, lebar thalli mencapai 4 mm.

  • Sebaran:

Tumbuh pada substrat batu terutama di daerah dekat ujung luar rataan terumbu yang terkena ombak. Sebaran; pantai selatan Jawa, PP. Seribu.

  • Potensi:

Belum banyak dimanfaatkan

  1. Sargassum plagyophyllum


  • Spesifikasi:

Percabangan utama bagian bawah gepeng tetapi agak membulat pada bagian atas. Batang utama agak silindris, pendek sekitar 1,5 cm. Tinggi rumpun dapat mencapai 60 cm. Daun oval sampai lonjong panjang sekitar 4 cm, lebar 1,4 cm, pinggir bergerigi, ujung runcing.

  • Sebaran:

Tumbuh pada substrat batu di daerah rataan terumbu. Sampel diperoleh dari perairan terumbu karang pulau Pari, Kep. Seribu, Laut Jawa.

  • Potensi:

Hampir sama dengan jenis Sargassum lainnya belum dimanfaatkan.

  1. Sargassum polycystum


  • Spesifikasi:

Ciri-ciri umum. Thalli silindris berduri-duri kecil merapat, holdfast membentuk cakram kecil dengan diatasnya secara karakteristik terdapat perakaran/stolon yang rimbun berekspansi ke segala arah. Batang pendek dengan percabangan utama tumbuh rimbun.

  • Sebaran:

Habitat. Sebaran. Alge yang kosmopolitan di daerah tropis hingga subtropics. Bukan merukan alge endemic perairan Indonesia, tetapi banyak ditemukan di perairan nusantara terutama di KTI.

  • Potensi:

Manfaat. Bisa dimanfaatkan sebagai bahan ekstraksi alginat. Manfaat lainnya belum diketahui. Potensi. Belum jelas. Tidak dibudidayakan.

 

  1. Turbinaria conoides


  • Spesifikasi:

Batang silindris, tegak, kasar, terdapat bekas-bekas percabangan. Holdfast berupa cakram kecil dengan terdapat perakaran yang berekspansi radial. Percabangan berputar sekeliling batang utama. daun merupakan kesatuan yang terdiri dari tangkai dan lembaran.

  • Sebaran:

Umumnya terdapat di daerah rataan terumbu, menempel pada batu. Tersebar luas di perairan Indonesia. Batang silindris, tegak, kasar terdapat bekas-bekas percabangan. Holdfast berupa cakram kecil dengan terdapat perakaran yang berekspansi radial.

  • Potensi:

Algae ini mengandung alginat dan iodin. Potensi Ekspor (ke Jepang)

  1. Turbinaria decurens


  • Spesifikasi:

Ciri-ciri thalli hampir sama dengan jenis lainnya hanya bedanya adalah dalam bentuk daun yang menyerupai kerucut segitiga.

  • Sebaran:

Hampir sama dengan jenis lainnya hanya dalam hal sebaran terutama sebaran lokal terdapat lebih banyak di daerah rataan terumbu bagian luar atau di tempat-tempat yang lebih banyak terkena ombak langsung.

  • Potensi:

Belum banyak dimanfaatkan. Kandungan kimia penting berupa alginat dan iodin.

  1. Turbinaria murayana


Kosong (tak ada keterangan terkait)

 

  1. Turbinaria ornata


  • Spesifikasi:

Perbedaan dengan jenis lainnya, jenis ini memiliki daun yang umumnya seperti corong dengan pinggir bergerigi. Karakteristik jenis ini adalah pinggir daunnya membentuk bibir dengan bagian tengah daun melengkung ke dalam.

  • Sebaran:

Tumbuh tersebar luas di perairan Indonesia terutama di perairan terumbu karang Termasuk jenis algae yang umum di dapat di perairan Indonesia.

  • Potensi:

Belum dimanfaatkan. Kandungan kimianya adalah alginat dan iodin.

jenis-jenis termometer

Soal :

Carilah gambar, bagian-bagian dan cara penggunaan dari :

  • Termometer air raksa
  • Termometer logam
  • Thermograf

Jawab :

  1. Termometer air raksa
  • Gambar


  • Bagian-bagian

Bagian-bagian termometer pipa kaca berupa pipa kapiler hampa udara, bagian bawahnya ada tandon zat cair skala yang terdapat pada bagian luar termometer zat cair yang berisi air raksa

  • Cara penggunaan

Termometer suhu pada mulut

    Prinsip utama yang harus diingat adalah jangan menggunakan cara ini pada bayi dan anak yangmasih kecil, terlebih bila menggunakan termometer air raksa.

Pengukuran suhu melalui mulut lebih akurat bila dibandingkan dengan pengukuran melalui ketiak. Tetapi untuk mendapatkan hasil yang akurat, biarkan termometer di dalam mulut selama 3-4 menit sebelum di baca. Selain itu, jangan lupa mengibas-kibaskan termometer sebelum digunakan.

Saat meletakkan termometer ke dalam mulut, pastikan ujung termometer ditempatkan di bawah lidah sejauh mungkin. Sekali lagi, di bawah lidah. Hal ini penting mengingat kebanyakan orang melakukan dengan salah dan sekedar memasukkan termometer ke dalam mulut, dikulum di atas lidah dan cuma selama 1-2 menit saja. Cara pengukuran yang salah tentu menghasilkan informasi yang tidak akurat.

Pengukuran suhu melalui mulut juga dapat menjadi tidak akurat bila 20 menit sebelum pengukuran, Anda minum minuman panas atau dingin. Tindakan tersebut menyebabkan suhu di bawah lidah Anda menjadi berubah dan tidak dapat mewakili suhu tubuh.

  1. Termometer logam
  • Gambar


  • Bagian-bagian
    • Menggunakan sebuah coil (pelat pipih) yang terbuat dari logam yang sensitif terhadap panas, pada ujung spring terdapat pointer.
    • Penggunaan termometer spring harus selalu melindungi pipa kapiler dan ujung sensor (probe) terhadap benturan/ gesekan.
  • Cara penggunaan

Keping Bimetal sengaja dibuat memiliki dua buah keping logam karena kepingan ini dapat melengkung jika terjadi perubahan suhu. Prinsipnya, apabila suhu berubah menjadi tinggi, keping bimetal akan melengkung ke arah logam yang keoefisien muainya lebih rendah, sedangkan jika suhu menjadi rendah, keping bimetal akan melengkung ke arah logam yang koefisien muainya lebih tinggi. Logam dengan koefisien muai lebih besar (tinggi) akan lebih cepat memanjang sehingga kepingan akan membengkok (melengkung) sebab logam yang satunya lagi tidak ikut memanjang. Biasanya keping bimetal ini terbuat dari logam yang koefisien muainya jauh berbeda, seperti besi dan tembaga.

Pada termometer, keping bimetal dapat difungsikan sebagai penunjuk arah karena jika kepingan menerima rangsangan berupa suhu, maka keping akan langsung melengkung karena pemuaian panjang pada logam.

  1. Thermograf
  • Gambar


  • Bagian-bagian
  • Spot meter (titik) guna mengetahui lokasi di satu ttik tertentu
  • Area (luasan) untuk mengetahui distribusi temperatur pada suatu lingkup area
  • Profil (kurva) membantu mengamati distribusi temperature sepanjang jalur titik
  • Histogram untuk mengetahui prosentase distribusi temperatur di suatu area
  • Cara penggunaan

Dalam pengukuran panas radiasi termal ini terdapat beberapa faktor yang menjadi data dalam pengukuran yaitu :

1. Jarak obyek ke kamera

2. Temperatur dan kelembaban udara lingkungan

3. Temperatur refleksi lingkungan

4. Emisivitas permukaan obyek.

sehingga diperlukan alat ukur bantu berupa alat ukur jarak, termometer dan humidity-meter. Sementara untuk emisivitas ditentukan berdasarkan data material obyek atau melalui pengaturan emisivitas dari pengukuran di titik acuan dengan termometer dengan akuarasi lebih baik atau dengan menempelkan sebuah bahan isolasi hitam dengan emisivitas yang telah diketahui.

Sebelum merekam hasil pengukuran terlebh dahulu harus diperhatikan hal penting berikut ini :

a. Range atau daerah batas pengukuran yang tepat sesuai kondisi panas obyek

b. Fokus atau ketajaman gambar obyek

c. Minimalisasi pengaruh gangguan radiasi lingkungan melalui sudut pandangan


 

Jaringan ikat


 

 

 

 

 

JARINGAN IKAT

Jaringan ikat memiliki variasi yang sangat luas berdasarkan morfologi, letak geografis dan strukturnya. Fungsi utama adalah sebagai penghubung jaringan. Secara embriologis, jaringan ikat berasal dari mesoderm. Dari lapis mesoderm ini, sel multipoten pada embryo atau dikenal dengan sebutan mesenkim berkembang menjadi jaringan penyambung, jaringan ikat, tulang, dan darah.

Komponen jaringan ikat terdiri atas sel dan matriks ekstra seluler. Ekstra seluler tersebut teridi atas substansi dasar dan serabut jaringan ikat. Sel jaringan ikat merupakan komponen penting pada beberapa jenis jaringan ikat, sedangkan serabut jaringan ikat juga merupakan komponen penting pada tipe jaringan ikat yang lainnya. Walaupun demikian, ketiga komponen jaringan ikat memegang peran penting di dalam jaringan ikat.

  1. Fungsi Jaringan Ikat

Jaringan ikat mempunyai banyak fungsi, namun yang paling utama adalah sebagai penunjang dan pengikat, media untuk pertukaran, pertahanan tubuh, dan penyimpan lemak. Fungsi sebagai penunjang karena jaringan ikat dapat membentuk kapsula yang membungkus organ yang sekaligus menunjang fungsi organ tersebut. Jaringan ikat juga berperan sebagai media pertukaran hasil metabolik dalam jaringan dan zat nutrisi serta oksigen di dalam darah dan pada beberapa sel dalam tubuh. Fungsi pertahanan dan proteksi diperan kan oleh beberapa sel jaringan ikat seperti sel fagositik, sel immunokompeten, dan sel penghasil substansi khusus dalam tubuh.

 

Pada setiap jaringan ikat terdapat 3 unsur utama, yaitu Sel jaringan ikat, Substansi dasar, Serabut jaringan ikat.

  1. Sel jaringan ikat

Pemerian sel jaringan ikat didasarkan atas penampilannya dalam jaringan ikat. Sel jaringan ikat dibagi dalam dua kategori yaitu sel yang tetap (fixed cells) dan sel kelana (transien cells atau wandering cells). Sel tetap merupakan sel yang tetap berada di tempat. Sel tetap sifatnya stabil dan berumur panjang. Yang termasuk ke dalam sel tetap adalah : Fibroblas, Perisit, sel lemak, sel mast, dan makrofag. Sedangkan sel kelana adalah sel yang berasal dari sumsum talang dan ikut sirkulasi aliran darah. Sifat sel kelana adalah berumur pendek. Sel kelana akan migrasi kejaringan ikat karena adanya rangsangan. Yang termasuk ke dalam sel kelana adalah Sel plasma, mackrofag, limfosit, neutrofil, eosinofil, basofil, dan monosit.

  1. Substansi dasar

Substansi dasar ini membentuk matriks. Substansi intersel memberi kekuatan dan penyokong bagi jaringan dan berfungsi sebagai medium untuk perembesan cairan jaringan.

Substansi intersel amorf berbentuk gel kaku dan berperan membantu untuk memberikan kekuatan dan sokongan pada jaringan dan media untuk difusi nutrisi. Bahan amorf terdiri atas glikosaminoglikans (polisakarida yang mengandung gula amino) dan glikoprotein. Glikosaminoglikans yang banyak pada jaringan ikat adalah: asam hialuronat, kondroitin sulfat, dermatan sulfat, keratan sulfat, heparan sulfat. Sedangkan, proteoglikan pada jaringan ikat adalah : fibronektin, laminin, dan kondronektin.

  1. Serabut jaringan ikat

Dalam jaringan ikat terdapat 3 jenis serabut, yakni serabut kolagen, serabut elastin, dan serabut retikuler. Ketiga jenis serabut ini dibedakan berdasarkan penampilan dan sifat kimianya. Semua serabut merupakan protein.

Jaringan Penunjang atau Penyokong

Jaringan ini berfungsi untuk melindungi organ-organ tubuh yang lemah. Macam jaringan penunjang atau penyokong di antaranya jaringan  tulang keras, jaringan tulang rawan, jaringan ikat, jaringan darah, dan jaringan lemak.

  • Jaringan tulang keras tersusun oleh sel-sel tulang keras. Di antara sel-sel tulang terdapat bahan dasar (matriks) yang mengandung zat kapur. Zat kapur inilah yang menyebabkan tulang menjadi keras. Fungsi jaringan tulang membentuk rangka tubuh yang menyokong dan melindungi bagian lunak.
  • Jaringan tulang rawan tersusun oleh sel-sel tulang rawan. Tulang rawan antara lain terdapat pada permukaan persendian dan daun telinga.
  • Jaringan ikat berfungsi untuk mengaitkan atau mengikat organorgan tubuh. Misalnya, tendon menghubungkan otot dengan tulang, ligamen menghubungkan tulang yang satu dengan tulang yang lain.
  • Jaringan darah terdiri dari sel-sel darah dan plasma darah. Selsel darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Jaringan ini bertugas melaksanakan transportasi mengedarkan zat-zat (zat makanan) dan  (oksigen) ke seluruh tubuh.

Jaringan lemak (adiposa) terdiri dari sel-sel lemak. Jaringan lemak berfungsi sebagai bantalan lemak yang terdapat di  antara alat-alat tubuh.

Udang panaeus vannamei

Tugas : Sumber Daya Perairan

PANAEUS VANNAMEI

 


Oleh

Nama : M. ARMAN AHMAD

Angkatan : 2009

 

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2011

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Penaeus vannamei, biasa juga disebut sebagai udang putih dan masuk ke dalam famili Penaidae. Anggota famili ini menetaskan telurnya di luar tubuh setelah telur dikeluarkan oleh udang betina. Udang Penaeid dapat dibedakan dengan jenis lainnya dari bentuk dan jumlah gigi pada rostrumnya. Penaeid vannamei memiliki 2 gigi pada tepi rostrum bagian ventral dan 8-9 gigi pada tepi rostrum bagian dorsal (Anonim 1, 2007).


Gambar 1 Penaeus vannamei

 

Penaeus vannamei memiliki karakteristik kultur yang unggul. Berat udang ini dapat bertambah lebih dari 3 gram tiap minggu dalam kultur dengan densitas tinggi (100 udang/m2). Berat udang dewasa dapat mencapai 20 gram dan diatas berat tersebut, Penaeus vannamei tumbuh dengan lambat yaitu sekitar 1 gram/ minggu. Udang betina tumbuh lebih cepat daripada udang jantan (Wyban et al., 1991).

Penaeus vannamei memiliki toleransi salinitas yang lebar, yaitu dari 2 – 40 ppt, tapi akan tumbuh cepat pada salinitas yang lebih rendah, saat lingkungan dan darah isoosmotik (Wyban et al., 1991). Rasa udang dapat dipengaruhi oleh tingkat asam amino bebas yang tinggi dalam ototnya sehingga menghasilkan rasa lebih manis. Selama proses post-panen, hanya air dengan salinitas tinggi yang dipakai untuk mempertahankan rasa manis alami udang tersebut (Wyban et al., 1991).

Temperatur juga memiliki pengaruh yang besar pada pertumbuhan udang. Penaeus vannamei akan mati jika tepapar pada air dengan suhu dibawah 15oC atau Tugas Bioteknologi Hewan diatas 33oC selama 24 jam atau lebih. Stres subletal dapat terjadi pada 15-22 oC dan 30-33oC. Temperatur yang cocok bagi pertumbuhan Penaeus vannamei adalah 23-30oC. Pengaruh temperatur pada pertumbuhan Penaeus vannamei adalah pada spesifitas tahap dan ukuran. Udang muda dapat tumbuh dengan baik dalam air dengan temperatur hangat, tapi semakin besar udang tersebut, maka temperatur optimum air akan menurun (Wyban et al., 1991).

 

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Siklus Hidup Penaeus vannamei

Udang biasa kawin di daerah lepas pantai yang dangkal. Proses kawin udang meliputi pemindahan spermatophore dari udang jantan ke udang betina. Peneluran bertempat pada daerah lepas pantai yang lebih dalam. Telur-telur dikeluarkan dan difertilisasi secara eksternal di dalam air. Seekor udang betina mampu menghasilkan setengah sampai satu juta telur setiap bertelur. Dalam waktu 13-14 jam, telur kecil tersebut berkembang menjadi larva berukuran mikroskopik yang disebut nauplii/ nauplius (Perry, 2008). Tahap nauplii tersebut memakan kuning telur yang tersimpan dalam tubuhnya lalu mengalami metamorfosis menjadi zoea. Tahap kedua ini memakan alga dan setelah beberapa hari bermetamorfosis lagi menjadi mysis. Mysis mulai terlihat seperti udang kecil dan memakan alga dan zooplankton. Setelah 3 sampai 4 hari, mysis mengalami metamorfosis menjadi postlarva. Tahap postlarva adalah tahap saat udang sudah mulai memiliki karakteristik udang dewasa. Keseluruhan proses dari tahap nauplii sampai postlarva membutuhkan waktu sekitar 12 hari. Di habitat alaminya, postlarva akan migrasi menuju estuarin yang kaya nutrisi dan bersalinitas rendah. Mereka tumbuh di sana dan akan kembali ke laut terbuka saat dewasa. Udang dewasa adalah hewan bentik yang hidup di dasar laut (Anonim 2, 2008).


Gambar : Siklus hidup udang vanamei (Stewart, 2005)

2.2 Karakteristik Induk Udang

Udang yang dijadikan sebagai induk (broodstock) sebaiknya bersifat SPF (Specific Pathogen Free). Udang tersebut dapat dibeli dari jasa penyedia udang induk yang memiliki sertifikat SPF. Keunggulan udang tersebut adalah resistensinya terhadap beberapa penyakit yang biasa menyerang udang, seperti white spot, dan lain-lain. Udang tersebut didapat dari sejumlah besar famili dengan seleksi dari tiap generasi menggunakan kombinasi seleksi famili, seleksi massa (WFS) dan seleksi yang dibantu marker. Induk udang tersebut adalah keturunan dari kelompok famili yang diseleksi dan memiliki sifat pertumbuhan yang cepat, resisten terhadap TSV dan kesintasan hidup di kolam tinggi.

Karakteristik induk udang baik yang lain adalah udang jantan dan betina memiliki karakteristik reproduksi yang sangat bagus. Spermatophore jantan berkembang baik dan berwarna putih mutiara. Udang betina matang secara seksual dan menunjukkan perkembangan ovarium yang alami. Berat udang jantan dan betina sekitar 40 gram dan berumur 12 bulan.

 

2.3 Reproduksi Udang

Organ reproduksi utama dari udang jantan adalah testes, vasa derefensia, petasma, dan apendiks maskulina. Sperma udang memiliki nukleus yang tidak terkondensasi dan bersifat nonmotil karena tidak memiliki flagela. Selama perjalanan melalui vas deferens, sperma yang berdiferensiasi dikumpulkan dalam cairan fluid dan melingkupinya dalam sebuah chitinous spermatophore (Wyban et al., 1991). Leung-Trujillo (1990) menemukan bahwa jumlah spermatozoa berhubungan langsung dengan ukuran tubuh jantan.

Sistem reproduksi Penaeus vannamei betina terdiri dari sepasang ovarium, oviduk, lubang genital, dan thelycum. Oogonia diproduksi secara mitosis dari epitelium germinal selama kehidupan reproduktif dari udang betina. Oogonia mengalami meiosis, berdiferensiasi menjadi oosit, dan menjadi dikelilingi oleh sel-sel folikel. Oosit yang dihasilkan akan menyerap material kuning telur (yolk) dari darah induk melalui sel-sel folikel (Wyban et al., 1991).

 

2.4 Kawin dan Bertelur

Perilaku kawin pada Penaeus vannamei pada tangki maturasi dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan seperti temperatur air, kedalaman, intensitas cahaya, fotoperiodisme, dan beberapa faktor biologis seperti densitas aerial dan rasio kelamin (Yano et al., 1988). Menurut Dunham (1978) dalam Yano, et al (1988), bahwa adanya perilaku kawin pada krustasea disebabkan adanya feromon. Udang jantan hanya akan kawin dengan udang betina yang memiliki ovarium yang sudah matang. Kontak antena yang dilakukan oleh udang jantan pada udang betina dimaksudkan untuk pengenalan reseptor seksual pada udang (Burkenroad, 1974, Atema et al., 1979, Berg and Sandfer, 1984 dalam Yano, et al., 1988).

Proses kawin alami pada kebanyakan udang biasanya terjadi pada waktu malam hari (Berry, 1970, McKoy, 1979 dalam Yano, 1988).Tetapi, udang Penaeus vannamei paling aktif kawin pada saat matahari tenggelam. Spesies Penaeus vannamei memiliki tipe thelycum tertutup sehingga udang tersebut kawin saat udang betina pada tahap intermolt atau setelah maturasi ovarium selesai, dan udang akan bertelur dalam satu atau dua jam setelah kawin (Wyban et al., 2005).

Peneluran terjadi saat udang betina mengeluarkan telurnya yang sudah matang. Proses tersebut berlangsung kurang lebih selama dua menit. Penaeus vannamei biasa bertelur di malam hari atau beberapa jam setelah kawin. Udang betina tersebut harus dikondisikan sendirian agar perilaku kawin alami muncul (Wyban et al., 1991).

 

2.5 Proses Pembenihan Secara Konvensional

Proses pembenihan yang biasa dilakukan pada kebanyakan pembenuran (hatchery) udang komersial adalah dengan cara perkawinan alami untuk menghasilkan larva. Keuntungan perkawinan alami dibandingkan dengan inseminasi buatan adalah jumlah nauplii yang dihasilkan tiap udang betina sekali bertelur lebih banyak dibandingkan nauplii yang dihasilkan dengan metode inseminasi buatan (Yano et al., 1988).

Induk udang Penaeus vannamei dikumpulkan dan dipelihara dalam kondisi normal untuk maturasi dan kawin secara alami. Setiap sore dilakukan pemeriksaan untuk melihat udang betina yang sudah kawin lalu dipindah ke tangki peneluran (spawning tank). Betina yang sudah kawin akan memperlihatkan adanya spermatophore yang melekat. Saat pagi hari, betina yang ada di dalam tangki peneluran dipindahkan lagi ke dalam tangki maturasi (maturation tank). Dalam waktu 12-16 jam, telur-telur dalam tangki peneluran akan berkembang menjadi larva tidak bersegmen atau nauplii (Wyban et al., 1991).

Menurut Caillouet (1972), Aquacop (1975), dan Duronslet et al., (1975), ovum pada udang betina biasanya mengalami reabsorbsi tanpa adanya peneluran lagi. Masalah tersebut dapat dikurangi dengan cara ablasi salah satu tangkai mata yang menyediakan hormon yang berfungsi sebagai stimulus untuk reabsorbsi ovum (Arnstein dan Beard, 1975; Wear dan Santiago, 1977). Beberapa peneliti telah menunjukkan bahwa ablasi juga dapat meningkatkan pertumbuhan udang (Hameed dan Dwivedi, 1977). Ablasi dilakukan dengan cara membakar, mengeluarkan isi dari salah satu batang mata keluar melalui bola mata, dan melukai batang mata dengan gunting (Wyban et al., 2005).

Udang yang akan diablasi dipersiapkan untuk memasuki puncak reproduktif. Jika ablasi dilakukan saat tahap premolting maka akan menyebabkan molting, ablasi segera setelah udang molting dapat menyebabkan kematian, dan ablasi selama intermolt menyebabkan perkembangan ovum (Adiyodi dan Adiyodi, 1970).

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

PERRY, HARRIET M., 2008, Marine Resources and History of the Gulf Coast. Diperoleh dari : http://www.dmr.state.ms.us/dmr.css (Tanggal akses : 23 Maret 2008)

WYBAN, JAMES A., SWEENEY, JAMES N., 1991. Intensive Shrimp Production Technology. The Oceanic Institute. Hawaii