Aplikasi ginogenesis pada ikan


APLIKASI GINOGENESIS PADA IKAN LELE DUMBO

 

Oleh :

M. ARMAN AHMAD

051609013

 

 


 

 

PROGRAM STUDY MANAJEMEN SUMBER DAYA PERAIRAN

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN

UNIVERSITAS KHAIRUN

TERNATE

2011

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Ikan lele merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang sudah dibudidayakan secara komersial oleh masyarakat Indonesia terutama di Pulau Jawa. Pengembangan usaha budidaya ikan ini semakin meningkat setelah masuknya jenis ikan lele dumbo ke Indonesia pada tahun 1985. Peningkatan tersebut dapat terjadi karena ikan lele dumbo dapat dibudidayakan pada lahan dan sumber air yang terbatas dengan padat tebar yang tinggi, modal usahanya relatif rendah karena dapat menggunakan sumber daya yang relatif mudah didapatkan, teknologi budidayanya relatif mudah dikuasai masyarakat dan pemasaran benih dan ukuran konsumsinya relatif mudah.

Perkembangan budidaya yang pesat tanpa didukung oleh kontrol yang baik terhadap penggunaan induk telah mengakibatkan terjadinya perkawinan sekerabat (inbreeding) yang tinggi. Perkawinan sekerabat ini telah menyebabkan terjadinya ketidakstabilan perrtumbuhan ikan yang ditandai oleh adanya penurunan pertumbuhan pada produksi pembenihan dan pembesaran. Hasil evaluasi fluktuasi asimetri terhadap benih yang berasal dari Sleman, Tulung Agung dan Bogor menunjukkan telah terjadi peningkatan ketidakstabilan pertumbuhan lele dumbo yang ditandai dengan tingginya tingkat asimetri dan abnormalitas (Nurhidayat, 2000). Sedangkan menurut Rustidja (1999), pada awal masuk ke Indonesia, pembudidaya lele dapat menghasilkan ukuran konsumsi hanya dalam waktu 70 hari dari ukuran benih 3-5 cm, namun dengan pola budidaya yang sama, ukuran konsumsi baru dapat dicapai setelah pemeliharaan lebih dari 100 hari.

Untuk mendekatkan kembali mutu benih lele dumbo saat ini kepada mutu asalnya, perlu dilakukan perbaikan-perbaikan pada proses produksi induk lele dumbo. Perbaikan mutu lele dumbo dapat dilakukan dengan beberapa strategi, antara lain dengan cara seleksi, hibridisasi, silang-balik, ginogenesis maupun transgenik (Rustidja, 1999).

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1 Klasifikasi Ikan Lele Dumbo

Menurut Sanin (1984) dan Simanjuntak (1989) Dalam Rustidja (1997) klasifikasi ikan leledumbo adalah sebagai brikut:

Kingdom : Animalia

Sub Kingdom : Metazoa

Phylum : Vertebrata

Class : Pisces

Sub Class : Teleostei

Ordo : Ostariophysoidei

Sub Ordo : Siluroidea

Family : Claridae

Genus : Clarias

Spesies :Clarias gariepinus

 

2. 2 Morfologi dan Biologi Ikan Lele Dumbo

Menurut Najiyati (1992), dalam Rustidja (1997) bentuk luar ikan lele dumbo yaitu memanjang, bentuk kepala pipih dan tidak bersisik. Mempunyai sungut yang memenjang yang terletak diseitar kepala sebagai alat peraba ikan. Mempunyai alat olfactory yang terletak berdekatan dengansungut hidung . Penglihatannya kurang berfungsi dengan baik. Ikan lele dumbo mempuyai 5sirip yaitu sirip ekor, sirip punggung, sirip dada, dan sirip dubur. Pada sirip dada jari-jarinyamengeras yang berfungsi sebagai patil, tetapi pada lele dumbo lemah dan tidak beracun. Insang berukuran kecil, sehingga kesulitan jika bernafas. Selain brnafas dengan insang juga mempunyaialat pernafasan tambahan (arborencent) yang terletak padainsang bagian atas.Sebagaimna halnya ikan dari jenis lele, lele dumbo memiliki kulit tubuh yang licin, berlendir,dan tidak bersisik. Jika terkena sinar matahari, warna tubuhnya otomatis menjadi loreng sepertimozaik hitam putih. Mulut lele dumbo relatif lebar, yaitu sekitar ¼ dari panjang total tubuhnya.Tanda spesifik lainnya dari lele dumbo adalah adanya kumis di sekitar mulut sebanyak 8 buahyang berfungsi sebagai alat peraba. Saat berfungsi sebagai alat peraba saat bargerak atau mencarimakan (Khairuman, 2005).

Menurut Puspowardoyo (2003), memiliki patil tidak tajam dan giginya tumpul. Sungut leledumbo relatif panjang dan tampak labih kuat dari pada lele lokal. Kulit dadanya terletak bercak- bercak kelabu seperti jamur kullit manusia (panu). Kepala dan punggungnya gelap kehitam-hitaman atau kecoklat-coklatan. Lele dumbo memiliki sifat tenang dan tidak mudah berontak saat disentuh atau dipegang. Penampilannya kalem dan tidak banyak bergerak. Lele dumbo sukameloncat bila tidak merasa aman.Pada lele, menurut Najiyati (1992), alat pernapaasan tambahan terletak di bagian kepala. Alat pernapasan ini berwarna kemerahan dan berbentuk seperti tajuk pohon rimbun yang penuh kapiler-kapiler darah. Mulutnya terdapat di bagian ujung moncong dan dihiasi oleh empat pasangsungut, yaitu 1 pasang sungut hidung, 1 pasang sungut maksilan (berfungsi sebagai tentakel), dandua pasang sungut mandibula. Insangnya berukuran kecil dan terletak pada kepala bagian belakang.

2.3 Pengertian Gynogenesis Mitosis

    Gynogenesis mitosis yaitu teur normal yang dibuahi (fertilisasi) dengan spermmatozoa irradiasi,sehingga jumlah kromosom dalam telur tetap 2n (diploid) dan dibiarkan terjadinya peloncatan polar body II. Setelah terjadi peloncatan polar body II baru dilakukan kejutan (shocking) padatelur hasil daro gynogenesis mitosis adalah ikan ´Diploid Gynogegetic Mitotic Homozygote´(Rustidja, 2002).Gynogensis adalah suatu gynogenesis diploid yang diperoleh dari perpindaha pembuahan sel pertama pada sebuah sel telur yang di aktifkan oleh sebuah setrizoon (Beaumont and Hoare,2003).

2.4 Keunggulan Teknik Gynogenesis Mitosis

Menurut Rustidja (2002), bahwa program gynogenesis ini jauh lebih efisien bila dibandingkandengan program seleksi (metode culling) dalam menghasilkan individu-individu yanghomozygot dan dapat memproduksi populasi yang breed-true sangat lama di peroleh, sedangkanuntuk gynogenesis hanya dieperlukan 2-3 generasi saja. Nilai yang lebih penting dari gynogenesis adalah menghasilkan inbred yang kuat, dan berpotensial untuk menyediakandasar (menjadi dasar) bagi inbred lines hanya pada satu generasi.Jika memungkinkan pada metode fynogenesis mitosis setelah mencapai kedewasaan danmemproduksi telur,dari telur ini dapat di beri perlakuan untuk memproduksi gunogenesismitosis, lalu keturunannya akan memiliki sifat genetik yang yang identik satu sama lain(Beaumont and Hoare, 2003).

2. 5 Kelemahan Teknik Gynogenesis Mitosis

Dalam Rustidja (2002) dijelaskan bahwa, walaupun sudah sering dilaksanakan, tetapimetode gynogenesis ini memiliki beberapa kelemahan yang mana hal ini juga tergantung padaspisies ikan yang digunakan, antara lain :

  • Viabilitas (viability) rendah, tapi Stanley (1976) Dalam Purdom (1983) mengatakan, bahwa gynogenesis grass carp (Ctenophraryngodon idella) mempunyai viabilitas yangtinggi.
  • Survival rendah pada carp, cyprynidis lain dan loaches, plaice dan rainbow trout (Salmogairnen) (Goovinskala 1968 dalam Purdom 1983).
  • Terdapatnya individu dengan morfologi aberant dan rendahnya vitality (Komen, 1990 Dalam Rustidja, 1995)
  • Morfologi yang peclarities (intersex, body deformation) lebih jarang tejadi pada ikanHeterozygot Gynogenesis dibandingkan dengan Homozygot Gynogenesis (Komen, 1990Dalam Rustidja, 1995).

Karunasagar, et.al. (1999), juga menjelaskan bahwa individu hasil Gynogenesis mitosismemiliki tingkat kematian yang tinggi.

2.6 Metode Yang Umum Digunakan

Kejutan (shocking) pada telur dapat dilakukan dengan perlakuan fisik seperti suhu (dingin/coldatau hangat/warm) dan tekanan hidrostatik (hidrostatik presure) maupun kimia (bahan-bahankimia) seperti alkohol 96 % dan Chytoclasin B. Tetapi saat ini pada umumnya digunakan suhuhangat sektar 400C (ikan air tawar) dan tekanan hidrostatic (ikan air laut) (Rustidja, 2002).

Diploidisasi merupakan rangkaian kegiatan gynogenesis untuk menghasilkan individu diploidgynogenesis. Duplikasi tersebut dapat dilakukan dengan cara menahan pembentukan polar bodyII pada saat meiosis II. Pelepasan polar body II di cegah dengan cara diberikan kejutan panas.Sehingga terbentuk nukleus yang diploid kejutan panas ini umum dilakukan dengan caramerendam telur-telur yang telah dibuahi ke dalam air panas dengan temperatur tertentu(Murtidjo, 2001).

2.7 Aplikasi di Dunia Perikanan

    Yamazaki (1983) dalam Rustidja (2002), menyatakan bahwa gynogenesis Artificial pada spesiesikan dengan bahwa homogamety (ww) akan memproduksi benih semua betina, sedangkan betinaheterogamety (zw) akan menghasilkan 1 : 1 yaitu zz (jantan) dan ww (betina).Dengan menggunakan metode gynogenesis diharapkan ikan Mas strain Punten mempunyai sifathomosigositas pada keturunannya. Gynogenesis adalah suatu cara pemurnian untuk menghasilkan sifat homozygot dengan cepat, karena nukleus, sperma yang masuk ke dalam telur dalam keadaan tidak aktif. Perlakuan gynogenesis ini dilaksanakan di Balai Benih Ikan (BBI)Punten, Batu, Malang dan laboratorium Fisiologi Tumbuhan Jurusan Biologi FakultasMatematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, UNIBRAW yang telah diujikan pada Ikan Mas(Cyprinus carpio) Strain Punten

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Analisa Prosedur

3.1.1 Radiasi Sperma

Pada proses radiasi sperma, yang pertama dilakukan adalah menyiapkan air terlebih dulu kedalam bak, kemudian diambil ikan lele jantan yang telah matang gonad. Selanjutnya ikantersebut dibius menggunakan minyak cengkeh sebanyak 1ml dan dibiarkan sampai benar-benar pingsan, dilakukan hal ini agar mudah dalam mengambil gonad ikan. Setelah itu dibedah dengansectio set untuk mengambil gonad dari tubuh ikan lele dan perut ikan di jahit kembali. Kemudiangonad ikan di cacah dalam mangkuk. Setelah itu sperma dimasukkan ke dalam glass ukur dandiencerkan dengan Na-fis dengan perbandingan (1:9), tujuannya sebagai pengencer serta sebagai pemberi nutrisi bagi sperma. Selanjutnya diletakkan di watch glass sebanyak 1 ml agar spermaterkumpul menjadi satu dan kemudian dimasukkan ke dalam kotak UV dengan jarak 20 cm darisinar UV yang tujuannya untuk merusak kromosom dan di aduk dengan stearer dan disinari UV,kemudian di tunggu hingga 5 menit, ketetapan waktu ini didapatkan dari perhitungan perkuraan40% dari yang hidup dengan tujuan merusak kromosom. Setelah sperma dan Na-fis tersebutdiradiasi dibuat preparat kemudian diamati mortalitasnya dengan mikroskop dan diamatihasilnya.

3.1.2 Shocking Gynogenesis Mitosis

    Untuk melakukan shocking gynomitosis yang dilakukan pertama yaitu disiapkan ikan betinamatang gonad dan dilakukan stripping untuk diambil telurnya, dengan cara perut ikan betinamatang gonad tersebut diurut sampai keluar telurnya dan ditaruh dalam mangkuk. Sel telur diambil sedikit dan diletakkan pada cawan. Kemudian dicampur dengan spermaradiasi.selanjutnya ditambahkan air sambil digoyang-goyangkan agar sel telur tidak lengketdalam cawan. Setelah itu didiamkan selama 29 menit. Kemudian percampuran telur percampurantelur dan sperma tersebut diberi kejutan panas dengan suhu 400C selama 1 menit untuk mencegah terjadinya peloncatan polar body II supaya kromosom tetap 2n (diploid) selanjutnyatelur tersebut ditebar dalam saringan pada bak inkubator yang telah diberi air yang diaerasi,tujuannya adalah agar telur tidak mati. Kemudian diamati tiap 30 menit selama 2 jam, denga caramengamati telur menggunakan mikroskop untuk mengamati perkembangannya, kemudian difotosel telur untuk diamati perkembangannya

3.2 Analisa Hasil

Pada perlakuan gynomitosis setelah diamati pada pengamatan hari pertama sabtu 24 mei 2008 pukul 12.45 WIB telah terjadi telur terbuahi dan kuning telur bergranula, pada pukul 13.15 WIBterjadi pembelahan pertama, yaitu pembelahan tingkat 2 sel. Kemudian pada pukul 13.45 WIBtelah terjadi pembelahan inti telur tinkat 4 sel yaitu pembelahan kedua, selanjutnya disusul pengamatan pukul 14.15 WIB di mana telah terjadi fase pembelahan ke kempat, tetapi jugaterlihat banyak sel kecil, hal ini juga bisa disebut masuk fase morula. Pada pengamatan harikedua minggu 25 mei 2008 untuk pengamatan pukul 10.00 WIB terjadi fase blastula, dimana intitelur mulai tertutupi, kemudian pada pukul 10.30 WIB terjadi fase gastrula awal, pada pengamatan pukul 11.00 WIB telah terjadi fase gastrula akhir, kemudian pengamatan pukul11.30 WIB dimana telah terjadi fase neurula.Hal ini sesuai dengan Chumaidi dan Priyadi (2007), dimana perkembangan-perkembangantersebut sama dengan perkembangan yang tertera pada gambar berikut yaitu fase perkembanganembrio telur ikan hasil pembuahan buatan hingga menetas.

Perkembangan telur pada pengamatan yang telah dilakukan, berkembang sampai proses perkembangan embrio sampai fase neurula saja saat pukul 11.30 WIB dan selanjutnya tampak diamati telur mati berwarna putih, kematian ini mencapai 90%. Hal ini kemungkinan dipengaruhioleh jamur dan bakteri. Menurut Rustidja (2004), bahwa telur-telur yang busuk merupakanmedia yang baik untuk jamur khususnya Caprolegnia. Kematian juga dapat disebabkan oleh penurunan suhu yang tidak sesuai dengan suhu untuk penetasan telur, dan suhu ini sangatlahrendah, sehingga tidak dapat mentolerir suhu tersebut dan tidak dapat menetas. MenurutMurtidjo (2001), telur-telur ikan lele akan menetas pada temperatur 25oC ± 30oC

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, 2007. Lele (Clarias Gariepinus). http://www.google.com. Diakses tanggal20 mei 2008 pukul 19.10 WIB.

Mudjiman, A. 1994. Budidaya Ikan Lele. Agromedia. Jakarta.

Murtidjo, 2001. Beberapa Metode Pembenihan Air Tawar

Rustidja. 2004. Pembenihan Ikan-Ikan Tropis.Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya.Malang.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s